Dari sebuah milis dikabarkan bahwa Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia
(DDII) akan membentuk Tim Peneliti tentang ESQ yang diketuai oleh Dr.
Adian Husaini. Tim ini diminta melakukan kajian yang serius,
komprehensif, dan adil terhadap ESQ. Sambil menunggu hasil kerja tim
DDII ini, mari kita kaji tulisan tentang ESQ dan Pluralisme agama yang
ditulis oleh mahasiswa Program Doktor Pendidikan Islam PKU-DDII
Universitas Ibn Khaldun, Bogor, sebagaimana yang dimuat dalam
nahimunkar.com
ESQ DAN PLURALISME AGAMA[1]
Oleh Dinar Dewi Kania dan Aji Jumiono,
mahasiswa Program Doktor Pendidikan Islam PKU-DDII Universitas Ibn Khaldun, Bogor.
A. PENDAHULUAN
Persoalan pokok kehidupan masyarakat di Indonesia dan berbagai belahan
dunia lainnya pada umumnya adalah dominasi paham sekularisme yang
didorong oleh kehidupan yang serba materialistis. Di banyak negara maju,
banyak orang yang terkategori sukses dalam kariernya namun ia merasa
tidak bahagia. Setelah sukses ternyata ia hanya menjadi budak waktu yang
bekerja untuk memenuhi tuntutan para mitra dan kliennya.
Keberhasilannya hanya menjadi “penjara” bagi dirinya. Mereka tidak
bahagia dengan kesuksesannya. Umumnya mereka menyadari telah menaiki
tangga yang salah justru setelah mencapai puncak tertinggi dari anak
tangga kariernya. Pada akhirnya, uang yang berlimpah, harta, pangkat,
kedudukan dan penghormatan bukanlah sesuatu yang mereka cari selama ini.
Hal ini menjadi suatu penyakit baru yang dinamakan dengan
spiritual pathology atau
spiritual illness.
Fenomena tersebut melahirkan pelatihan spiritual di kalangan eksekutif
dan staf perusahaan ternama baik di dalam maupun di luar negeri.
Misalnya saja dalam buku
Megatrend 2000 (John Naisbit dan
Patricia Aburdene) menyampaikan bahwa telah 67.000 pegawai Pacific Bell
di California telah mengikuti pelatihan spiritual ala New Age. Demikian
pula pegawai P&G, Ford Co, AT&T, General Motors, GE,
Johnson&Johnson, Motorolla dan IBM dan lain-lain. Perkembangan
pelatihan spiritual di perusahaan-perusahaan Indonesia baik swasta
maupun milik pemerintah juga mengalami fenomena yang sama. Sampai tahun
2008 saja telah lebih dari 600.000 orang eksekutif telah mengikuti
pelatihan ESQ.Saat ini ESQ seolah menjadi ikon paradigma baru dalam
menjalani kehidupan yang penuh turbulensi bagi para professional dan
next generation negeri ini. Target dengan adanya ESQ dapat menjadi panduan
surfing di samudera kehidupan, senantiasa
online dengan pusat kehidupan hakiki, hidup
inline dengan garis orbit kehidupan yang sesungguhnya, dan istiqomah tetap berpusat pada kiblat dan garis edar yang benar saat
offline.
Namun masyarakat dikejutkan oleh keluarnya fatwa haram dari mufti
Malaysia di wilayah persekutuan yang mecakup Kuala Lumpur, Putrajaya dan
Labuan, berdasarkan Warta Kerajaan: Seri Paduka Baginda, Jilid 54, no.
12, tanggal 17 Juni 2010. Beberapa alasan pengharaman tersebut salah
satunya dalam poin pertama (i) mendukung paham liberalisme atau
menafsirkan nash-nash agama (al-Qur’an dan Sunnah) secara bebas, dan
paham Pluralisme agama yaitu paham yang mengajarkan semua agama adalah
sama dan benar. Kedua-dua paham ini sesat dan boleh membawa kepada
kekufuran.
Tulisan ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana
sebenarnya konsep ESQ dan apakah dalam konsep tersebut teradapat ide-ide
pluralisme agama sebagaimana difatwakan oleh mufti Malaysia di wilayah
persekutuan.
B. PELATIHAN ESQ
ESQ
memposisikan diri sebagai lembaga pelatihan dan pengembangan Sumber Daya
Manusia. Dalam profil ESQ yang dikutip pada situs ESQ dinyatakan bahwa
ESQ adalah lembaga training independen di bidang SDM yang menggunakan
metode “ESQ Way 165″. Lembaga ini bukan lembaga dakwah, politik, agama,
LSM maupun ormas, namun ESQ seperti oksigen yang tidak berwarna dan
netral. Dengan falsafah ini Tim ESQ berharap dapat diterima oleh
komunitas manusia universal sesuai dengan konsep God Spot yang juga
memberikan anggukan universal pada setiap manusia.
Dalam pengantar buku ESQ Ary Ginanjar menuliskan kata-kata Emha Ainun Nadjib saat konser kenduri cinta di Senayan Jakarta :
Kalau di dalam buku ini ada Rukun Iman dan Rukun Islam,
Bukan berarti ekslusifisme aliran atau agama,
Tapi keinginan untuk menyampaikan kebenaran.
Kalau di dalam buku ini ada Al Qur’an,
Itu bukan untuk golongan
Tapi untuk seluruh umat manusia
Bukan Al Qur’an untuk Islam
Bukan dunia untuk Islam
Tapi Al Qur’an dan Islam untuk dunia
Pelatihan ESQ menjadi suatu pelatihan spiritual yang dikenal banyak
menjangkau kalangan eksekutif. Pelatihan ESQ ini diklaim memadukan
prinsip asas dalam Islam, yaitu Rukun Iman, Rukun Islam dan Ihsan serta
kaidah-kaidah yang tidak bertentangan dengann Islam. Pelatihan ini
dianggap [ menjadi fenomena dan harapan baru karena selama ini modul
pengembangan sumberdaya manusia, manajemen, kepemimpinan, dan psikologi
umumnya menggunakan rujukan Barat yang dikenal sekuler, tetapi ESQ
memberikan penawaran alternatif sebuah pelatihan yang berlandaskan
nilai-nilai Islam sebagai penyelesaian masalah di tempat kerja, sekolah,
universitas dan di dalam institusi keluarga. Menurut mereka, pelatihan
yang telah diikuti lebih dari 850 ribu orang ini selama ini menjadi
alternatif pengembangan SDM dari yang selama ini menggunakan teori-teori
pengembangan SDM dari Barat
[6].
Tujuan pelatihan ESQ ini para peserta disadarkan akan makna kebahagiaan
hakiki yang sesuai dengan fitrah manusia, sehingga dalam training ESQ
dan sejenisnya tak jarang dijumpai isak tangis terdengar di segenap
sudut ruang, dan kemudian puluhan atau bahkan ratusan peserta training
itu tenggelam dalam raungan tangis, dalam sembilu kepedihan dan
penyesalan atas segenap dosa yang telah mereka perbuat selama ini.
Misalnya saja dalam salah satu segmen training ESQ atau training
sejenisnya yang mengusung tema tentang spiritualitas dan etos kerja.
Ribuan peserta – termasuk para pejabat BUMN dan pemerintah daerah –
telah mengikuti training itu, dan ribuan orang itu selalu tenggelam
dalam apa yang saya sebut sebagai
momen pengakuan dosa massal dalam haru biru penuh tangisan penyesalan.
C. KONSEP ESQ
Dalam bukunya, ESQ menyatakan memadukan rukun iman dan rukun Islam.
Konsep ini begitu fenomenal mengingat konsep-konsep manajemen diri dan
publik saat konsep ini dicetuskan (sekitar tahun 2000) tengah berkembang
pesat teori kepribadian dan pengembangan diri yang berasal dari barat
seperti konsep
Seven Habits dari Stephen Covey. Publik pun
memberikan banyak harapan konsep yang bermuara pada ajaran Islam ini
dapat mengimbangi bahkan menggantikan konsep Barat tersebut.
Dalam pengantar buku ESQnya, Ary Ginanjar menuliskan sebagai berikut :
Memang nyata-nyata terbukti bahwa konsep rukun iman dan rukun Islam
yang dilahirkan kurang lebih 1400 tahun silam adalah konsep kemenangan
pribadi dan kemenangan publik saat ini yang begitu populer di seluruh
dunia. Berbagai teori barat tentang konsep kemenganan pribadi dan publik
yang ada justru semakin membenarkan konsep rukun Iman dan Rukun Islam.
Manusia harus memiliki konsep duniawi atau kepekaan emosi dan
intelegensia yang baik (EQ plus IQ) dan penting pula penguasaan ruhiyah
vertikal atau spiritual quotient (SQ). Dan merujuk kepada istilah
bi-dimensional tersebut, sebuah upaya penggabungan terhadap ketiga
konsep tersebut dilakukan. Lewat sebuah perenungan yang panjang, saya
mencoba untuk melakukan sebuah usaha penggabungan dari ketiganya dalam
bentuk konsep ESQ (Emotonal Spiritual Quotient) yang dapat memelihara
keseimbangan kutub akhirat dan kutub keduniaan. Melalui ESQ akan
dibangun suatu prinsip hidup dan karakter berdasarkan Rukun Iman dan
Rukun Islam, sehingga akan tercipta suatu kecerdasan emosi dan spiritual
sekaligus langkah pelatihan yang sistematis dan jelas. Pada akhirnya
akan terbentuk suatu pemahaman visi, sikap terbuka, integritas,
konsisten dan kreatif yang didasari atas kesadaran diri serta sesuai
dengan suara hati yang terdalam yang pada akhirnya akan menjadikan Islam
tidak hanya sebatas agama ritual tetapi juga sebagai “the way of life”.
Konsep utama dari ESQ adalah
Zero Mind Process (ZMP) sebagai proses penjernihan emosi sehingga mecapai
God Spot atau fitrah , 6 asas atau orbit untuk membangun mental, dan 5 prinsip untuk membangun kekuatan pribadi dan sosial (
personal and social strenght). Konsep tersebut kemudian dipatenkan sebagai ESQ model, sebagaimana gambar di bawah ini :
Menurut Ary Ginanjar, ESQ model adalah sebuah mekanisme sistematis untuk me-”manage” ketiga potensi manusia, yaitu body, mind dan soul, dalam satu kesatuan yang integral.
Gambar ESQ Model menunjukan enam asas yang berfungsi untuk melindungi
pusat orbit, dalam hal ini adalah God Spot. Keenam asas ini berfungsi
menjaga agar fitrah di pusat tetap utuh terpelihara. Dan
karaktakteristik dari keenam asas ini sesuai dengan sifat dasar manusia (
human nature),
sejalan dengan hati nurani, dan kehendak alam sebagai cerminan dari
kehendak Allah yang Maha Kuasa. Keenam asas tersebut menggambarkan rukun
iman. Sedangkan lima lingkaran terluar mengorbit pada titik Tuhan (God
Spot) yang menggambarkan rukun Islam.
Konsep dasar ESQ diawali dengan
God Spot
yang berupa anggukan universal. Anggukan universal ini disebut juga
dengan suara hati. Semua manusia sama dalam rasa ingin memberi, kasih
sayang, ingin maju, mengetahui, ingin bersih, memelihara, menolong,
melindungi dan menyukai yang indah.
Konsep God Spot ini disebut fitrah atau suara hati yang sama pada setiap manusia.
Ary Ginanjar menafsirkan surat Al-Araf ayat 172 tentang adanya
perjanjian antara Allah dengan ruh manusia sebagai bukti adanya anggukan
universal. Ia mencontohkan dengan adanya persetujuan ketika mendengar
atau melihat suatu perbuatan baik seperti menyaksikan film bermutu atau
membaca buku bermutu, mendengar percakapan yang berkualitas dan
lain-lain.
Ary Ginanjar mempersamakan emosi dengan
nafs amarah dan berperan sebagai radar hati . Emosi memiliki dua kondisi kategori yaitu
in-line dan
offline dari radar orbit.
In-line yaitu ketika emosi sesuai dengan hati nurani (
God Spot) dan
offline ketika tidak sesuai dengan hati nurani. Sedangkan
suara hati spiritual adalah
nafs mutmainnah.
ZMP dapat dicapai melalui penjernihan pikiran manusia sehingga manusia
terbebas dari virus dan bakteri belenggu-belenggu negatif yang terbentuk
oleh persepsi dan paradigma. Belenggu-belenggu tersebut adalah
prasangka negatif, pengaruh prinsip hidup, pengaruh pengalaman, pengaruh
kepentingan, pengaruh sudut pandang, pengaruh pembanding, dan pengaruh
literatur.
Nilai spiritual menurut Ary Ginanjar adalah
“nilai-nilai yang berlaku dan diterima oleh semua orang, yang sesuai dan
bisa diterima dalam skala lokal, nasional dan regional ataupun
internasional.” Dijelaskan lebih lanjut bahwa nilai tersebut harus tetap
berada pada orbit spiritual yang dapat diterima oleh seluruh penduduk
bumi bahkan penduduk langit, yang merupakan nilai puncak atau “
ultimate value“.
Nilai ini merupakan prinsip-prinsip yang dapat diterima dalam bahasa
bulan, matahari, bintang dan jiwa manusia yang memiliki fitrah
tertinggi.
Lalu ia menambahkan,
Yang kita cari adalah
nilai kebenaran tertinggi, nilai keadilan tertinggi, nilai cinta dan
kasih tertinggi, nilai kesetiaan tertinggi, dan nilai kejujuran
tertinggi, yang tidak lagi dibatasi lagi oleh perbedaan manusia. Lalu
apakah pusat orbit yang mampu menghasilkan ini semua ?
Manusia
menurut konsep ESQ adalah makhluk spiritual murni, yaitu makhluk yang
ditiupkan ruh-ruh spiritual ke dalam tubuh manusia. Sifat-sifat tersebut
kemudian dipadukan ke dalam materi konkret berupa tubuh atau jasad
manusia yang terbuat dari tanah. Pendapat ini dibuktikan dengan adanya
penemuan ilmiah SQ (
Spiritual Quotient) di California
University oleh V.S Ramachandran pada tahun 1997, lalu God Spot oleh
Michael Persinger, Wolf Singer, dan Rudolfo Llinnas tentang osilasi
saraf spiritual. Para ahli tersebut diatas berhasil membuktikan bahwa
manusia memiliki makna tertinggi kehidupan manusia (
The Ultimate Meaning).
Ary Ginanjar menegaskan bahwa penemuan
God Spot
pada manusia lebih meyakinkan pendapat ini, karena akan senantiasa
mencari Tuhan-nya, yaitu melalui sifat-sifat-Nya, yang selalu
diidam-idamkan manusia dan sekaligus merupakan bukti kepekasaan Allah,
penghambaan serta penghambaan manusia. Ia juga menambahkan bahwa hal ini
yang dinamakan proto kesadaran yang terdeteksi pada osilasi 40 Hz oleh
Pare dan Llinas. Dengan bermodalkan
Spritual Quotient (SQ),
manusia mengabdi kepada Allah untuk mengelola bumi sebagai khalifah dan
misi utamanya semata-mata mencari keridhaan Allah, target utamanya
adalah menegakan keadilan, perdamaian dan kemakmuran. Langkah nyatanya
berupa spiritualisasi di segala bidang. Inilah yang menurutnya The
Ultimate Meaning sesungguhnya, yang harus dicari oleh Danah Zohar, dan
yang harus dicari oleh Abraham Maslow, yaitu aktualisasi diri melalui
Ihsan.
Ary Ginanjar juga menciptakan 33
spiritual capital atau
collective unconscious yang menciptakan nilai-nilai (v
alue) serta dorongan dari dalam (
drive). Sifat-sifat ini menurutnya termasuk kategori ihsan, atau menuju sifat-sifat Allah (
taqarub), yang terletak pada
spiritual center (
God Spot).
Nilai-nilai tersebut diikhtisarkan dari 99 Asmaul Husna yang merupakan
proto kesadaran yang terdeteksi pada osilasi Pare-Llinas, yang dianggap
sebagai
arketipe oleh Zohar, yang diduga sebagai
super-ego oleh Freud,
self-actualization oleh Maslow,
unconscious-mind oleh Carl Jung, dan dinamakan “makna hidup” oleh Frankl. Ia lalu menamakan nilai-nilai ini sebagai
Asmaul Husna Value Sistem (AHVS) yang menghasilkan
ultimate value dan
ultimate drive.
D. KONSEP PLURALISME AGAMA
Plularisme agama (
religious pluralism) adalah sebuah paham (
isme)
tentang bagaimanana melihat keberagaman dalam agama-agama yang begitu
banyak dan beragam. Gagasan ini mulanya tidak dikenal dalam teologi
resmi Gereja, namun pihak Kristen kemudian menggunakan paham ini untuk
kepentingan mereka dalam penyebaran globalisasi dan westerenisasi. Dalam
konsep pluralime agama terdapat pengakuan terhadap eksistensi
the one Universal God (uhan Universal God), atau adanya kesamaan tuhan dalam level esoteris sebagaimana teori
trancendent unity of Religions yang digagas oleh Frithjof Schuon.
John Hick sebagai salah satu tokoh utama pluralisme agama, melontarkan gagasan pluralismenya dengan
the transformation from religion centered to God-centredness
atau transformasi dari pemusatan agama menuju pemusatan Tuhan. Sehingga
dua konsep kunci dalam pluralisme adalah konsep “agama” dan konsep
“tuhan”. Hick menggantikan terminologi Tuhan menjadi
The Real yang kemudian dibekan menjadi the “
the Real an sich” atau the
noumenal Real ( esensi), dan “
the phenomenal Real” yaitu Zat yang nyata sebagaimana yang tampak oleh manusia melalui kacamata-kacamata tradisi dan agama-agama yang berbeda.
The phenomenal Real
menyebabkan manusia memiliki tuhan yang dinamakan secara berbeda sesuai
kacamata traditisional dan kultural manusia seperti Yahweh, Trinitas,
Allah, Krisna, Wisnu, Siwa. Menurut hipotesa Hick seharusnya yang
menjadi titik pusat dan pangkal keselamatan/pembebasan/ pencerahan
satu-satunya adalah
the noumenal Real, yang merupakan realitas
ketuhanan yang absolut, tunggal dan tak terbatas oleh segala macam
ungkapan, konsepsi, dan pemahaman atau komprehensi manusia.
Hick mencoba menjustifikasi tesisnya dengan menggunakan teori revolusi
Copernican. Menurut Hick, dikutip dari Anis Malik Toha :
Kini
revolusi Copernican dalam astronomi terjadi karena sebuah transformasi
dalam cara manusia memahami alam dan posisi mereka di dalamnya.
Transformasi ini melibatkan suatu pergeseran dari dogma bahwa bumi
adalah pusat dari alam yang berputar mengelilinginya menuju sebuah
pemahaman bahwa mataharilah sesungguhnya yang berada di pusat, dan semua
planet, termasuk bumi kita, berak mengelilinginya. Dan Revolusi
Copernican yang diperlukan dalam teologi melibatkan sebuat tranformasi
yang sama radikalnya berkenaan dengan alam agama-agama dan tempat atau
posisi agama kita sendiri di dalamnya. Ia melibatkan dogma bahwa Kristen
berada di pusat menuju pemahaman bahwa Tuhanlah yang berada di pusat,
dan semua agama-agama manusia, termasuk agama kita berputar di
sekelilingnya.
Hick memprediksi bahwa secara gradual akan terjadi
converging course (konvergensi cara-cara beragama) yaitu adanya agama lintas kultural dan inklusif yang dikemas dalam ide
global theology.
Agama baru ini menurutnya akan banyak menolong manusia modern dan dapat
membangun kehidupan bersama yang toleran, penuh kedamaian, kesetaraan.
E. PEMBAHASAN
Sebagaimana telah dijelaskans sebelumnya bahwa Inti pokok konsep
pluralisme adalah pertama; konsep tentang “agama” yang dianggap sebagai
himpunan tradisi kultural, kedua ; konsep “penyatuan Tuhan”. Konsep
God-centeredness ini mengakui adanya “
the one universal God pada level esoteris atau transenden yang menjadi landasan gagasan penyatuan agama-agama (
the transcendent unity of religion).
Jika melakukan perbandingan secara langsung dengan mencari definisi
tentang “agama’ dan “tuhan” dalam buku ESQ, maka tidak akan ditemukan
pembahasan mengenai masalah tersebut.
Namun dalam buku ESQ banyak digagas mengenai konsep nilai universal yang merupakan
ultimate value yang disebut suara hati yang berasal dari suara Tuhan dan merupakan pusat orbit manusia. Justifikasi ESQ diperoleh dari teori
God Spot
atau titik tuhan yang ditemukan oleh V.S. Ramachandran dan dikembangkan
oleh Danah Zohar dan lain-lain. Dalam membangun teori pluralisme agama,
Hick menggunakan teori revolusi Copernican sebagai hujjah ilmiah
penguat ide-idenya dengan Tuhan sebagai pusat orbit dan agama-agama
sebagai planet yang mengelilinginya. Apakah suatu kebetulah jika ESQ
juga menggunakan pergerakan planet mengelilingi matahari sebagai model
konseptualnya ?
Dalam buku ESQ juga ditemukan pernyataan bahwa
suara hati merupakan sumber kebenaran. Suara hati muncul karena keadaan
zero (0) atau berserah diri pada Allah (E), sehingga tidak menutupi
potensi spiritual (S) yang terletak pada
God Spot, pada
akhirnya kecerdasan spiritual (SQ) bekerja normal (+). Lalu dijelaskan
bahwa pusat keseimbangan manusia ada ketika berjalan sesuai orbit yang
berpusat pada
God Spot.
God spot itu sumber
nilai-nilai spiritual yang berlaku universal tanpa memandang perbedaan
manusia dan sesuai dengan hukum alam. Untuk mencapai nilai-nilai fitrah
atau
God spot harus melalu proses berpikir z
ero (ZMP) artinya berserah diri pada Allah.
Pertanyaannya, jika nilai-nilai tersebut universal, apakah nilai-nilai
tersebut berasal dari tuhan universal ? pada tuhan siapa kepasrahan
harus diberikan pada kondisi Zero ? apakah orang yang memiliki
kepercayaan berbeda-beda juga dapat mencapai kondisi
zero ?
karena Allah adalah Nama Tuhan yang hanya terdapat dalam ajaran Islam.
Konsep Tuhan dalam Barat sangat rancu begitu juga dalam agama Hindu,
Budha, Konguchu dan lain-lain. Menurut al-Attas, Islam bukanlah kata
benda verbal yang menunjuk pada penyerahan diri, Islam adalah nama
sebuah agama yang khusus yang mendeskripsikan penyerahan diri yang
benar, yang juga merupakan definisi agama itu; yaitu penyerahan diri
pada Tuhan. Cara dan bentuk penyerahan diri dalam suatu agama secara
definitif dipengaruhi oleh konsepsi mengenai Tuhan dalam agama itu.
Sehingga konsepsi Tuhan dalam agama menjadi sangat krusial agar dapat
mengartikulasikan bentuk penyerahan diri yang sesungguhnya. Konsepsi ini
menurut al-Attas harus mempu mendeskripsikan sifat Tuhan yang benar,
yang hanya bisa diperoleh dari wahyu bukan dari tradisi budaya atau
etnis tertentu atau percapmuran antara etnis dan tradidsi budaya dengan
kitab suci, tidak suga dari spekulasi filosofis berdasarkan penemuan
sains.
Jawaban terhadap isu-isu yang ditanyakan dalam dokumen
yang ditulis oleh Ary Ginanjar dan disetujui oleh Panel Syariah ESQ
Malaysia pada tanggal 25 Februari 2010, disebutkan bahwa suara hati yang
dimaksud oleh ESQ adalah suara hati nurani hak dan kebenaran yang
berpadukan dengan al-Qur’an dan Hadist. Mengenai teori
God Spot
sebagai rujukan pihak ESQ menjawab bahwa ESQ hanya membentangkan
penemuan sains semata dan bahwa traning ESQ telah dinyatakan sesuai
dengan ajaran Islam, hanya bermaksud fitrah yang berpadukan al-Qur’an
dan Hadist atau sunnah nabi.
ESQ merupakan bukti bahwa
Islamisasi tidak bisa dilakukan hanya dengan proses justifikasi. Konsep
ESQ dirumuskan dengan melakukan justifikasi terhadap pengalaman dan
temuan-temuan sains modern. Islamisasi tidak bisa dilakukan tanpa
melakukan dewesternisasi atau memisahkan elemen-elemen dan konsep-konsep
kunci yang membentuk kebudayaan dan peradaban Barat. Dengan tetap
mengedepankan prasangka positif, hal ini terjadi pada umumnya disebabkan
ketidakpahaman terhadap perbedaan mendasar antara epistemologi Barat
dan Islam. Sebuah realita yang memprihatikan karena saat ini umat Islam
sedang mengalami apa yang disebut sebagai krisis epistemologi.
Penulis sependapat dengan pemikiran al-Attas bahwa sains modern harus
didalami tetapi asas-asas filosofisnya harus disusun kembali sesuai
kerangka metafisika Islam. Adalah benar jika agama (Islam) sejalan
dengan sains, namun tidak berarti Islam sejalan dengan metodologi ilmiah
dan filsafat sains modern. Tidak ada ilmu yang bebas nilai sehingga
menurut al-Atas kita harus meneliti dan mengkaji dengan cerdas dan
penilaian yang melekat pada, atau bersatu dengan, pelbagai asumsi dan
interpretasi ilmu modern. Kita juga harus melakukan kritisi terhadap
setiap teori ilmu atau filsafat yang baru dengan memahami terlebih
dahulu implikasinya dan menguji validitas nilainya yang terkandung di
dalam teori tersebut. ESQ dalam hal ini tidak boleh sembrono dalam
mengambil penemuan-penemuan sains yang masih spekulatif karena teori SQ
masih perlu dikritisi tidak semata-mata dengan memodifikasi konsep
tersebut dengan mencuplik ayat dan hadist yang sepertinya sesuai dengan
fenomena sains tersebut.
Sebagai contoh, ketika ESQ menjustifikasi bahwa penemuan
God Spot
sesuai dengan ajaran Islam, ESQ berpegang dari hadits yang diriwayatkan
Bukhari Muslim yang berbunyi “Di dalam diri manusia ada segumpal
daging. Bila baik daging itu, maka baiklah orangnya. Bila jelek daging
itu, maka jeleklah orang itu. Daging itu adalah
qalb.” Secara tidak langsung ESQ menyetujui bahwa letak hati atau
qalb itu berada di otak sebagaimana penemuan neurasains tersebut. Taufik Pasiak dalam bukunya
Revolusi IQ/EQ/ SQ juga melakukan justifikasi yang sama. Menurutnya kata
qalb dalam hadits tersebut bukan bermakna hati/ jantung
(heart dalam bahasa inggris), tetapi lebih tepat dimaknai sebagai otak spiritual karena menurutnya
aql memiliki banyak fungsi, yaitu fungsi rasional, fungsi intuitif serta fungsi spiritual. Jika porsi kata
aql lebih diperbanyak pada usaha sains, maka kata
qalb lebih banyak menunjuk usaha-usaha ruhani.
Mengenai letak
qalb, seorang ulama salaf terkenal yang memiliki otoritas dalam masalah jiwa, Imam al-Ghazaly, menyatakan bahwa
qalb
sebagai daging yang bersuhu panas berbentuk kusama berada di sisi
sebelah kiri dada, di dalam isinya ada rongga yang berisi darah hitam
sekali, dan kalbu itu tempat melahirkan jiwa yang bersifat hewani serta
tempat asalnya. Dengan pengertian ini, kalbu yang dimaksud al-Ghazaly
menunjuk kepada jantung. Begitu juga dengan al-Attas menterjemahkan
qalb sebagai
heart.Al-Qur’an sendiri mengisyaratkan mengenai hal tersebut dalam surat al-Hajj (22) ayat 46.
أَفَلَمْ يَسِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَتَكُونَ لَهُمْ قُلُوبٌ يَعْقِلُونَ
بِهَا أَوْ آَذَانٌ يَسْمَعُونَ بِهَا فَإِنَّهَا لَا تَعْمَى الْأَبْصَارُ
وَلَكِنْ تَعْمَى الْقُلُوبُ الَّتِي فِي الصُّدُورِ [الحج/46]
Maka
apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai kalbu
yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan
itu mereka dapat mendengar? Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang
buta, tetapi yang buta, ialah qalb yang di dalam dada.
Tentunya dengan adanya pendapat Iman al-Ghazaly dan penegasan ayat
al-Qur’an, Hipotesa yang menyatakan otak sebagai tempat bersemayamnya
qalb,
perlu mendapatkan penelaahan lebih lanjut karena asumsi tersebut lebih
didasarkan atas penemuan dalam bidang neurosain. Dan penemuan neurosain
terbaru pun bisa menyanggah teori tersebut. Kerancuan letak qalb
didasari banyaknya ayat al-Quran yang menyatakan bahwa
qalb selain mengacu kepada emosi manusia juga merupakan fakultas aktif yang berfikir, sehingga jika letak
qalb
itu benar berada di Jantung sebagaimana pendapat imam Ghazaly, maka
sulit membayangkan bagaimana organ jantung dapat memiliki fungsi
kognitif seperti otak,
Namun kini tampak titik terang kebenaran
penafsiran ulama salaf yang menyatakan bahwa qalb adalah jantung yang
memiliki kemampuan berpikir. Sekumpulan ilmuwan Barat yang aktif
melakukan penelitian mengenai hubungan jantung dan otak (
heart and brain interaction)
telah menemukan fakta menarik mengenai hal ini. Dalam website Institute
of HeartMath, para ilmuwan ini menulisan hasil penelitiannya pada
e-book berjudul “
The Coherent Heart“. Dalam monograf ilmiah
tesebut dijelaskan penemuan terbaru mengenai interaksi antara jantung
dan otak yang ternyata mempengaruhi berbagai macam aspek dari kemampuan
kognitif seorang manusia. Kesimpulan tersebut ditarik setelah
kecanggihan alat teknologi kedokteran mampu menemukan sekumpulan ganglia
di dalam organ tersebut yang dapat berhubungan dengan otak. Oleh sebab
itu, hendaklah ESQ dalam mendefinisikan konsep-konsep kunci seperti
pikiran (
mind), jiwa (
soul), emosi, fitrah, suara hati, suara hati spiritual,
natural law,
dan lain-lain, dapat menukil tafsiran ulama-ulama salaf dan kontemporer
yang memiliki otoritas dalam masalah ini untuk menghindari kerancuan.
F. PENUTUP
Konsep ESQ sebagai sebuah modul pelatihan Sumber Daya Manusia
mengandung beberapa gagasan yang mengudang kontroversi walaupun untuk
membuktikan dakwaan yang menyatakan bahwa ESQ adalah pendukung
liberalisme dan pluralisme masih perlu penelitian lebih lanjut dan
mendalam, terutama untuk melihat ada tidaknya ide “persamaan tuhan” pada
level esoteris dalam ajaran ESQ, ataupun gagasan-gagasan lainnya
seperti
Asmaul Husna Value System (AHVS) dan tafsirannya yang tidak dibahas dalam makalah ini.
Jawaban pertanyaan ini sangat krusial dalam rangka identifikasi adanya
unsur pluralisme agama dalam kosep ESQ karena, pertama, dalam kebijakan
ESQ
Leadership Center tidak membatasi peserta pelatihan pada
mereka yang beragama Islam. Peserta dengan latar belakang agama berbeda
juga diperbolehkan mengikuti pelatihan ESQ. Dengan dibolehkannya
non-muslim mengikuti pelatihan ini, dapat menjadi indikasi bahwa kondisi
Zero dapat dicapai oleh siapa saja, asalkan melakukan
penyerahan diri pada tuhan. Kedua, adanya pernyataan bahwa ESQ seperti
oksigen yang tidak berwarna dan netral. Dengan falsafah ini Tim ESQ
berharap dapat diterima oleh komunitas manusia universal sesuai dengan
konsep
God Spot. Pernyataan ini merupakan pernyataan yang berbahaya karena ilmu tidak netral namun bergantung pada
worldview
dimana ilmu tersebut dilahirkan, sehingga ESQ perlu menjelaskan bentuk
kenetralan dan universalitas yang dimaksud dalam pernyataan tersebut.
Sejauh ini penulis hanya mendapatkan data dari jawaban ESQ terhadap
dakwaan bahwa ESQ mendukung liberalisme dan menyebarkan pluralisme.
Disebutkan bahwa bahwa ESQ menolak keras dakwaan tersebut karena
definisi dan ciri-ciri pluralisme tidak terdapat dalam buku-buku ESQ.
Kemudian ESQ menjelaskan tentang ciri-ciri liberalisme dan pluralisme,
namun sayangnya jawaban tersebut tidak diberi komentar atau bukti-bukti
yang kuat.
Selain dewan syariah, ESQ juga harus berkonsultasi dengan orang-orang yang memiliki
worldview
Islam dan paham mengenai epistemologi Barat dan Islam, agar pada saat
melakukan Islamisasi konsep dan teori pelatihan manajemen diri, tidak
terjadi kerancuan yang menyesatkan dalam hal pemikiran maupun praktek.
Semangat untuk menyebarkan nilai-nilai Islam secara global dan universal
tentunya jangan sampai terjebak kepada pemahaman yang justru
bertentangan dengan nilai-nilai Islam sehingga ajaran Islam kemudian
ditundukan oleh konsep dan teori Barat serta penemuan-penemuan dalam
bidang sains yang masih bersifat spekulatif. Hal ini diperlukan untuk
menghindari pengalaman Barat ketika ajaran Kristen akhirnya harus tunduk
oleh sekularisme dan pluralisme dalam rangka menyesuaikan agama mereka
dengan tuntutan globalisasi.
Ditulis oleh Dinar Dewi Kania dan
Aji Jumiono, mahasiswa Program Doktor Pendidikan Islam PKU-DDII
Universitas Ibn Khaldun, Bogor. Makalah ini dipresentasikan dalam
diskusi sabtuan Insists pada tanggal 17 Juli 2010.
Muhammad Religineer dalam Pengantar dalam buku ESQ Power, cetakan ke-14, Jakarta : Arga Publishing, 2009, hlm xii.
ESQ Way 165, ,
Tokoh Agama Indonesia dan Malaysia ; ESQ tidak menyimpang, Republika Nomor 181/ tahun ke-18, Selasa, 13 Juli 2010.
http://www.muftiwp.gov.my/pmwp/profail_jabatan_files/fatwa_esq.pdf
www.esqway165.com
Tim ESQ Leadership Center, Sdn, Bhd. Jawapan Kepada “Isu-isu yang
Ditanyakan oleh Alumni ESQ”. Edaran Terhad (SULIT). 25 Februari 2010.
Ary Ginanjar Agustian.
Rahasia Membangun Kecerdasan Emosi dan Spiritual (ESQ) Berdasarkan Rukun Iman dan 5 Rukun Islam, Jakarta : Penerbit Arga. 2001, hlm. xix-xxi.
Ary Ginanjar Agustian,
ESQ Power, hlm.28
Ibid, hlm.66
Ibid, hlm 179
Ary Ginanjar Agustian.
Rahasia Membangun Kecerdasan Emosi dan Spiritual (ESQ), hlm 10-11.
Ary Ginanjar Agustian,
ESQ Power. hlm. 144
Ibid, hlm. 145 dan152
Ibid, hlm. 145 – 147
Ary Ginanjar Agustian,
ESQ Power, hlm. 188.
Ibid, hlm. 96.
Ibid, hlm. 99.
Ibid, hlm. 103.
Ibid, hlm. 104.
Adian Husaini,
Syed Muhammad Naquib al-Attas,
Respon Islam terhadap Kesatuan Agama-agama, Jurnal Pemikiran dan Peradaban Islam Islamia, Thn I no. 3, 2004, hlm. 43.
Anis Malik Toha,
Konsep World Theology dan Global Theology ;
Eksposisi Doktrin Pluralisme Agama, Smith dan Hick, Jurnal Pemikiran dan Peradaban Islam ISLAMIA Thn I No. 4, 2005, hlm. 55
Ibid, hlm. 57
Ibid, hlm. 59
Ibid, hlm 54-59
Ary Ginanjar, ESQ, hlm. Iiv
Ary Ginanjar Agustian,
ESQ Power, hlm. 210.
Al-Attas menyatakan sifat Tuhan yang dipahami Islam, tidak sama dengan
konsepsi Tuhan yang dipahami dalam doktrin dan tradisi keagamaan lain di
dunia. Ia juga tidak sama dengan konsepsi Tuhan yang dipahami dalam
tradisi filsafat Yunani dan Helenistik. Ia tidak sama dengan konsepsi
Tuhan yang dipahami dalam filsafat Barat atau tradisi sains; juga tidak
sama dengan yang dipahami dalam tradisi mistisme Timur dan Barat.
Kalaupun ada kemiripan yang mungkin ditemukan antara sifat Tuhan yang
dipahami dalam Islam dengan berbagai macam konsepsi agama lain, maka
itupun tidak bisa ditafsirkan sebagai bukti bahwa tuhan yang dimaksud
adalah sama, yakni Tuhan Universal Yang Esa (The One Universal God),
karena masing-masing konsep tersebut digunakan sesuai dengan dan
termasuk dalam sistem dan kerangka konseptual yang berbeda-beda,
sehingga konsepsi tersebut merupakan suatu kesluran, atau super system,
tidak sama antara yang satu dengan yang lain. Lihat Syed Muhammad Naquib
al-Attas,
Respon Islam terhada[p Konsep Kesatuan Agama-agama, hlm. 44 .
[29] Syed Muhammad Naquib al-Attas,
Respon Islam terhada[p Konsep Kesatuan Agama-agama, hlm. 47.
Dokumen ESQ Center yang ditulis oleh Ary Ginanjar dan disetujui oleh Panel Syariah ESQ Malaysia, hlm. 7
Wan Mohd Nor Wan Daud,
FIlsafat dan Praktek Pendidikan Islam, hlm. 335
Wan Mohd Nor Wan Daud,
Filsafat dan Praktik Pendidikan Islam Syed M. Naquib al-Attas, Jakarta : Mizan, 1998, hlm.392.
Dokumen ESQ Center yang ditulis oleh Ary Ginanjar dan disetujui oleh Panel Syariah ESQ Malaysia.
Taufik Pasiak,
Revolusi IQ/EQ/ SQ,
hlm. 29-30. Para ahli otak menemukan bahwa kecerdasan spiritual itu
berakar kuat dalam otak manusia. Setidaknya ada empat bukti penelitian
yang memperkuat dugaan adanya potensi spiritual dalam otak manusia :1)
Osilasi 40 Hz yang ditemukan oleh Denis Pare dan Rudopho Llinas, yang
kemudian dikembangkan oleh Danah Zohar dan Ian Marshal, 2) Alam bawah
sadar kognitif yang ditemukan oleh Joseph deLoux dan kemudian
dikembangkan menjadi emotional intelligence oleh Daniel Goleman serta
Robert Cooper dengan konsep suara hati, 3) God Spot pada daerah temporal
yang ditemukan oleh Michael Pesinger dan Vilyanur Ramachandran, serta
bukti gangguan perilaku moral pada pasien dengan kerusakan lobus
prefrontal, dan 4) Somatic Marker oleh Antonio Damasio. Keempat bukti
itu memberikan informasi tentang adanya hati nurani atau intuisi dalam
otak manusia, sehingga penelitian ini memperkuat keyakinan bahwa manusia
tidak mungkin lari dari Tuhan. Lihat Pasiak, hlm. 27.
Imam al-Ghazaly,
Teori dasar Penyucian Jiwa, Jakarta : Nur Insani, 2003, hlm. 44.
The Coherent Heart
ditulis oleh Rollin McCraty, Ph.D., Mike Atkinson, Dana Tomasino, B.A.,
and Raymond Trevor Bradley, Ph.D. Tentang monograph tersebut dijelaskan
dalam situs resminya, “…It provides an in-depth understanding of the
role of the heart role in the emergence of systemwide coherence and new
research findings on how heart-brain interactions affect various aspects
of cognitive performance.
The Coherent Heart explores
communication within and among the body’s systems through the generation
and transmission of rhythms and patterns in the nervous and hormonal
systems. Using the pattern of the heart’s rhythmic activity as the
primary physiological marker, six different modes of psychophysiological
function are identified, distinguished by their physiological, mental,
and emotional correlates. lihat
http://www.heartmath.org/research/research-our-heart-brain.html
Mengenai ganglia atau ganglion disebutkan “In neurological contexts, ganglia are composed mainly of
somata and
dendritic structures
which are bundled or connected together. Ganglia often interconnect
with other ganglia to form a complex system of ganglia known as a
plexus. Ganglia provide relay points and intermediary connections between different neurological structures in the body, such as the
peripheral and
central nervous systems. Lihat http://en.wikipedia.org/wiki/Ganglion.
Keterangan tentang hubungan antara jantung dengan otak dapat dilihat pada situs IHM
http://www.heartmath.org/research/research-our-heart-brain.html