Senin, 20 Mei 2013

Mengapa kami tidak mengamalkan Doa kumail?

1. Siapa Kumail ini?
Kumail bin ziyad al-Kufi, dia tsiqah kecuali jika meriwayatkan dari Ali bin Abi Thabil maka harus dijauhi haditsnya.
2. Kedudukannya pada Syiah
Kata al-Majlisi ia:
إنّه أفضلُ الأدعيةِ ، و هو دُعاءُ خضر، و قد علّمه أميرُ المؤمنين كميلاً ، و هو من خواصّ أصحابه . و يُدعى به في ليلةالنّصف مِن شعبان ، و ليلة الجمعة . و يُجْدي في كفاية شرّ الأعداء ، و في فتح بابالرّزق ، و في غفران الذّنوب .
“ Ia adalah doa paling utama, doa Khidhir, diajarkan oleh amirul mukminin kepada Kumail, dia termasuk sahabatnya yang khusus, dia dibaca di malam nishfu Sha’ban, malam jum’at, dan berkhasiat dalam mencukupi kejahatan para musuh, membuka rizki dan mengampuni dosa.”
3. Para ulama Syiah mendhaifkan sanad doa Kumail
Muhammad Husain Kasyif al-Ghitha berkata dalam al-Firdaus al-A’la (hal. 51)
) : إننا كثيراً ما نصححُ الأسانيدَ بالمتون فلا يضرُ بهذا الدعاءِ الجليلِ ضعفُ سندهِ مع قوةِ متنهِ فقد دل على ذاته بذاتهِ .
Subhanallah!!! Bagaimana ia menunjukkan pada dzatnya dengan dzatnya?! Apakah begini kaedah mereka dalam menshahihkan dan mendhaifkan hadits?!!
Hal senada dikatakan oleh Abdul hadi al-Fadhli dalam Durus Fi Ushul Fiqh al-Imamiyyah (hal. 258):
: أمثالُ دعاءِ كميلِ فإن سندَهَ غيرُ ناهضٍ بإثبات صحةِصدورهِ عن المعصومِ ، لكن الفقيه من خلالِ مقارنته أسلوب هذا الدعاء بما يعرفُهُ من خصائص مميزة لأساليب أدعية أهل البيت يحصل له القطع بأنه صادرٌ عنهم ( عليهم السلام ) .
4. Doa Kumail menyalahi adab dan kaedah
Harus tsabit dari Nabi -shalallahu alaihi wa salam-, khususnya jika dijadikan ajaran yang diutamakan seperti ini, sementara sanadnya lemah.
Pengkhususan waktu membacanya tanpa dalil yang marfu’ atau yang hukumnya marfu’.
Di dalamnya disebutkan bahwa tafsir dari malam berkah di surat al-Dhukhan ayat 4 adalah malam nishfu sya’ban, ini tertolak belakang karena yang benar adalah malam lailatul qadar di bulan Ramadhan. Ini dikatakan oleh imam Thabari, Ibnu Katsir, Ibnu Rajab, Qadhi Ibnul Arabi, al-Qurthubi dan al-Syinqithi.
Doa Kumail tidak ada aroma jawami’ al-kalim sebagaimana ciri khas Nabi -shalallahu alaihi wa salam-.
Banyak mengandung unsur I’tida` (melampaui batas) dalam doa, seperti contoh:
: يا مولاي…فكيف يبقى في العذاب ، وهو يرجو ما سلف من حلمك..؟! ام كيف تولمه النار، وهو يأمل فضلك ورحمتك ..؟! ام كيف يحرقه لهيبها ، وأنت تسمع صوته وترىمكانه..؟! أم كيف بشتمل عليه زفيرها ، وأنت تعلم ضعفة..؟! أم كيف يتقلقل بيناطباقها ، وانت تعلم صدقه..؟! أم كيف تزجرة زبانيتها ، وهو يناديك يا ربه ..؟! أمكيف يرجو فضلك في عتقه منها ، فتتركه فيها..؟! هيهات …
Sementara Allah telah berfirman:
ادْعُوا رَبَّكُمْ تَضَرُّعًاوَخُفْيَةً إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ ” [ الأعراف : 55 ] .
- ada sajak yang dipaksa
‏عَنْ‏‏عِكْرِمَةَ ‏، ‏عَنْ ‏ ‏ابْنِ عَبَّاسٍ ‏‏قَالَ : … فَانْظُرْ ‏‏ السَّجْعَ ‏‏مِنْ الدُّعَاءِ فَاجْتَنِبْهُ فَإِنِّي عَهِدْتُ رَسُولَ اللَّهِ ‏ ‏صَلَّىاللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ‏ ‏وَأَصْحَابَهُ لَا يَفْعَلُونَ إِلَّا ذَلِكَ ‏‏يَعْنِي لَا يَفْعَلُونَ إِلَّا ذَلِكَ ‏ ‏الِاجْتِنَابَ . رواه البخاري (6337) .
Lafazh sayyidi dalam doa juga dipersoalkan oleh para ulama.
قال شيخُ الإسلامِ ابنُ تيميةَ في ” الفتاوى ” (1/207) : وَقَدْ كَرِهَ مَالِكٌ وَابْنُ أَبِي عِمْرَانَ مِنْ أَصْحَابِأَبِي حَنِيفَةَ وَغَيْرِهِمَا أَنْ يَقُولَ الدَّاعِي : يَا سَيِّدِي يَا سَيِّدِي، وَقَالُوا : قُلْ كَمَا قَالَتْ الْأَنْبِيَاءُ : رَبِّ رَبِّ .
وقالأيضاً في ” الفتاوى ” (10/285) : وَأَمَّا السُّؤَالُ فَكَثِيرًا مَا يَجِيءُبِاسْمِ الرَّبِّ كَقَوْلِ آدَمَ وَحَوَّاءَ : ” رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَاوَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ ” وَقَوْلِ نُوحٍ : ” رَبِّ إنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أَسْأَلَكَ مَا لَيْسَ لِي بِهِعِلْمٌ ” وَقَوْلِ مُوسَى : ” رَبِّ إنِّي ظَلَمْتُ نَفْسِي فَاغْفِرْ لِي ” وَقَوْلِ الْخَلِيلِ : ” رَبَّنَا إنِّي أَسْكَنْتُ مِنْ ذُرِّيَّتِي بِوَادٍغَيْرِ ذِي زَرْعٍ عِنْدَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِ رَبَّنَا لِيُقِيمُوا الصَّلَاةَ ” الْآيَةُ وَقَوْلِهِ مَعَ إسْمَاعِيلَ : ” رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إنَّكَ أَنْتَالسَّمِيعُ الْعَلِيمُ ” وَكَذَلِكَ قَوْلُ الَّذِينَ قَالُوا : ” رَبَّنَا آتِنَافِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ ” وَمِثْلُ هَذَا كَثِيرٌ .
وَقَدْ نُقِلَ عَنْ مَالِك أَنَّهُ قَالَ : أَكْرَهُ لِلرَّجُلِ أَنْ يَقُولَ فِي دُعَائِهِ : يَا سَيِّدِي يَا سَيِّدِي يَاحَنَّانُ يَا حَنَّانُ وَلَكِنْ يَدْعُو بِمَا دَعَتْ بِهِ الْأَنْبِيَاءُ ؛رَبَّنَا رَبَّنَا نَقَلَهُ عَنْهُ العتبي فِي العتبية .
وقال ابن رجب فيجامع العلوم والحكم عند شرح الحديث العاشر (1/274) : وسئل مالك وسفيان عمن يقول فيالدعاء : يا سيدي ، فقالا : يقول : يا رب . زاد مالك : كما قالت الأنبياء .

“NIKAH TAHLIL”

Pernikahan merupakan ikatan lahir batin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami istri denagan tujuan membentuk keluarga, rumah tangga yang bahagia dan kekal berdasarkan ketuhanan yang maha esa. lalu bagaimana dengan nikah tahlil, apakah pernikahan ini sah menurut hukum islam?
Tahlil artinya menghalalkan. sedangakan nikah tahlil adalah nikah yang dilakukan seorang laki-laki dengan seorang wanita yang telah diceraikan suaminya dengan talak tiga dengan niat agar wanita itu halal melakukan perkawinan dengan bekas suaminya yang pertama. Setelah suami kedua tersebut menceraikannya dan telah habis masa idah.
Allah melarang (mengharamkan) perbuatan tersebut sekaligus melaknat pelakunya. Hadits nabi Muhammad SAW:
Rasulullah SAW, melaknat muhallil dan muhalla lahu. ( HR. An-Nasa’I dan At- Tirmidzi).
Di dalam fiqh suami pertama disebut al muhallal lah (yang dihalalkan kembali menikahi bekas istrinya), sedangkan suami kedua disebut al muhallil (yang menyebabkan pernikahan suami pertama dengan bekas istri menjadi halal).  Timbulnya praktek tahlil ini disebabkan adanya larangan Allah SWT. Didalam alquran bagi suami yang telah menjatuhkan talak yang ketiga pada istrinya untuk kembali kepada istrinya, kecuali mantan istrinya telah menikah dengan orang lain, seperti bunyi ayat
Artinya:  kemudian jika si suami mentalaknya (sesudah Talak yang kedua), Maka perempuan itu tidak lagi halal baginya hingga Dia kawin dengan suami yang lain. kemudian jika suami yang lain itu menceraikannya, Maka tidak ada dosa bagi keduanya (bekas suami pertama dan isteri) untuk kawin kembali jika keduanya berpendapat akan dapat menjalankan hukum-hukum Allah. Itulah hukum-hukum Allah, diterangkan-Nya kepada kaum yang (mau) mengetahui.(QS. Albaqarah: 230).
Nikah tahlil memiliki dua bentuk. Pertama, syarat tersebut diucapkan pada waktu akad nikah dengan mengatakan, "Saya menikahkan anak saya denganmu, dengan syarat setelah bercampur kamu harus mentalaknya." Kedua, tidak menyebutkan syarat tersebut dalam akad nikah, tetapi masing-masing yang bersangkutan baik suami, istri atau wali telah berniat untuk melakukan nikah tahlil. Jika niat tersebut datang dari pihak suami, maka pernikahan tersebut tidak sah sebab suami berhak menjatuhkan talak, sementara suami tidak berniat menikah secara sungguh-sungguh atas dasar kasih sayang dan melestarikan keturunan.
Syarat-syarat nikah tahlil
Syarat nikah tahlil. Madzab hanafi dan syafi’I berpendapat agar nikah tahlil tetap sah harus dipenuhi syarat sebagai berikut:
1.    Memenuhi rukun dan syarat perkawinan yang sah dan biasa dilakukan.
2.    Akad perkawinan kedua tidak boleh disebutkan persyaratan tahlil.
3.    Perkawinan itu tidak boleh dibatasi oleh waktu tertentu.
4.    Suami kedua dan wanita tersebut harus  ada hubungan kelamin yang sesungguhnya.
5.    Wanita itu harus menjalani seluruh masa idahnya.
Syarat-syarat nikah tahlil menurut madzab Maliki dan Hanbali adalah sebagai berikut:
1.    Nikah tahlil dilakukan tanpa niat untuk menghalalkan kembali perkawinan suami pertama dan bekas istrinya.
2.    Perkawinan yang dilakukan oleh suami kedua itu harus sah.
3.    Suami kedua beragama islam.
4.    Wanita tersebut bukan anak kecil yang belum dapat melakukan hubungan kelamin.
5.    Harus ada hubungan kelamin yang sesungguhnya.
6.     tidak ada halangan yang bersifat hukum yang menghalangi hubungan tersebut.
7.     suami kedua dan wanita tersebut tidak mengingkari terjadinya hubungan kelamin.
8.     madzab maliki menambahkan bahwa suami kedua itu harus baligh, sedangkan madzab hanbali tidak mensyaratkannya.

Hukum Nikah Tahlil.
Para ahli fiqh madzab hanafi dan syafi’I yang membenarkan nikah tahlil mendasarkan pemahaman mereka kepada surah Al-Baqaqah (2) ayat 230 yang Artinya: “kemudian jika suami menalaknya (sesudah talak yang kedua) maka perempuan itu halal lagi baginya hingga ia kawin dengan suami yang lain.
Adapun perkawinan yang dapat menghalalkan si istri kepada suami yang pertama adalah apabila proses perkawinan antara si istri dengan suami yang kedua itu berjalan secara wajar atau alamiah. Sayyid sabiq dalam kitabnya fiqh sunnah mengatakan bahwa persyaratan halalnya suami pertama kepada mantan istrinya, yaitu:
1.    Pernikahan wanita tersebut dengan suami kedua adalah pernikahan sah.
2.    Pernikahan tersebut adalah kehendak wajar.
3.    Pernikahan itu adalah pernikahan yang hakiki atau sempurna. 

Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa:
Nikah tahlil adalah nikah yang dilakukan seorang laki-laki dengan seorang wanita yang telah diceraikan suaminya dengan talak tiga dengan niat agar wanita itu halal melakukan perkawinan dengan bekas suaminya yang pertama. Setelah suami kedua tersebut menceraikannya dan telah habis masa idah. Nikah tahlil boleh dilakukan apabila prosedur-prosedur nikah tahlil tersebut tidak betentangan dengan syara

Pengertian Nikah, Hukum, Syarat dan Rukun Nikah

Nikah secara bahasa artinya menggabungkan atau mengumpulkan dua hal menjadi satu. Sedangkan menurut istilah nikah adalah akad perkawinan yang shahih. Atau akad yang mengakibatkan halalnya hubungan suami istri.

Dasar hukum nikah adalah Al-Qur'an dan As-Sunnah dan Ijma'.

Allah berfirman, "Maka nikahilah wanita-wanita yang baik bagi kamu dua, tiga, atau empat." (An-Nisaa': 3)

Nabi Muhammad shallalahu alaihi wa sallam bersabda, "Wahai sekalian pemuda, barangsiapa diantara kamu yang mempunyai kesanggupan, maka menikahlah," (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Dan ummat Islam berijma' tentang diysriatkannya nikah.

Hukum Nikah.
Hukum nikah berbeda-beda sesuai keaadan manusianya. BIsa jadi nikah itu wajib bagi seseorang, dan bisa jadi sunnah bagi yang lain. Dan manusia dibagi menjadi tiga golongan dalam hukum nikah ini sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Qudamah dalam Al-Mughni, beliau berkata, "Dalam masalah nikah, manusia dibagi menjadi tiga golongan. Pertama; orang yang khawatir jatuh dalam perbuatan yang dilarang apabila dia tidak menikah, maka wajib baginya menikah sebagaimana pendapat kebanyakan ulama fikih, karena wajib baginya untuk menjaga kehormatran dirinya dan melindungi dirinya dari keharaman dan jalannya adalah dengan menikah.

Kedua; orang yang disunnahkan baginya menikah, yaitu orang yang mempunyai syahwat kepada lawan jenis tetapi dia bisa menjaga diri dari jatuh kedalah hal yang dilarang. Maka menikah lebih utama baginya daripada melakukan ibadah-ibadah sunnah.

Ketiga; orang yang tidak mempunyai syahwat, baik karena memang dia tercipta tanpa memili syahwat, seperti orang impoten, lemah syahwat, atau orang yang dulunya mempunyai syahwat, tetapi hilang karena sudah tua atau sakit atau yang lain. Dalam hal ini ada dua sisi, dianjurkan baginya menikah dan apabila dia tidak menikah itu lebih utama.

Barangsiapa memiliki syahwat, maka disunnahkan baginya menikah karena syariat Islam memrintahkannya. Nabi bersabda, "Wahai sekalian pemuda, barangsiapa diantara kamu yang mempunyai kesanggupan, maka menikahlah," (HR. Al-Bukhari dan Muslim) Karena didalam pernikahan terdapat banyak kebaikan seperti menjaga kemaluan suami dan sitri dari hal-hal haram, emmperbanyak keturunan, dan memperbanyak umat Islam.

Dan diharamkan menikah apabila berada di darul harb kecuali karena terpaksa. Juga diharamkan bagi yang tidak mampu secara materi dan tidak mampu menggauli istrinya.

Dimakruhkan menikah bagi mereka yang tidak mampu secara ekonomi sebagaimana firman Allah, "Dan orang-orang yang tidak mampu kawin hendaklah menjaga kesucian (diri) nya, sehingga Allah memampukan mereka dengan karunia-Nya." (An-Nur: 33) Juga sabda Nabi, ""Wahai sekalian pemuda, barangsiapa diantara kamu yang mempunyai kesanggupan, maka menikahlah," (HR. Al-Bukhari dan Muslim) Juga dimakruhkan menkah (poligami) bagi yang takut tidak bisa berbuat adil diantara istri-sitri.

Rukun Nikah
1. Calon suami dan istri yang tidak terhalang untuk menikah.
2. Ijab; yaitu lafad menikahkan yang diucapkan oleh wali atau yang mewakilinya.
3. Qobul; yaitu lafad menerima yang diucapkan oleh suami atau yang mewakilinya.

Syarat-Syarat Nikah
Akad nikah yang shahih mempuyai empat syarat;
Pertama; ridho kedua mempelai. Maka tidak boleh memaksa seorang laki-laki untuk menikahi wanita yang tidak diinginkannya, dan tidakboleh memaksa seorang wanita untu menikahi laki-laki yang tidak diinginkannya.

Allah berfirman, "Hai orang-orang yang beriman, tidak halal bagi kamu mempusakai wanita dengan jalan paksa." (An-Nisaa': 19)Nabi bersabda, "Tidak boleh menikahkan seorang janda sampai dia diajak musyawarah (diminta pendapat) dan tidak boleh menikahkan seorang gadis sampai dimintai izinnya.” Mereka berkata, “Wahai Rasulullah, bagaimana izinnya seorang gadis? Beliau bersabda, “Apabila dia diam�" (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
diriwayatkan dari Khantsa' bin Judzam bahwa ayahnya menikahkannya tanpa seizinnya, sedangkan dia adalah janda, maka dia mendatangi Rasulullah shallalahu alaihi wa sallam dan beliau menolak pernikahannya. (HR. Ibnu Majjah)

Nabi melarang menikahkan perempuan kecuali tanpa keridhoan dari perempuan tersebut, baik dia gadis atau janda. Bedanya kalau janda harus mengucapkan bahwa dia ridho, sedangkan untuk gadis cukup dengan diamnya karena dia malu untuk menyampaikan rasa ridhonya secara terang-terangan. Apabila dia tidak ridho, maka tidak boleh ada yang memaksanya untuk menikah, walaupun itu ayahnya. sebagaimana dalil-dalil diatas.

Dan tidak ada dosa bagi ayahnya bila tidak menikahkannya dalm keadaan seperti ini, karena dialah yang enggan untuk menikah. Akan tetapi wajib baginya menjaga dan melindunginya. Apablia ada dua orang yang melamarnya, lalu anak perempuannya berkata, "Aku mau menikah dengan yang ini," lalu walinya ingin menikahkan dengan yang lain, maka dia dinikahnkan dengan lelaki yang diinginkannya apabila dia sekufu'. Apabila tidak maka walinya berhak melarangnya dalam keadaan seperti ini, dan tidakmengapa baginya. Sebagaimana perkataan Syaikh Ibnu Utsaimin dalam kitab Az-Zawaj.

Kedua; Kepastian siapa istri atau suami.
Seperti bila wali mengatakan, "Aku nkahkan kamu dengan anakku fulanah, atau anakku yang tinggi ini, atau lafad semisalnya yang menegaskan siapa calon istrinya apabila dia mempunyai beberapa anak misalnya.

Ketiga; Adanya wali bagi mempelai wanita
Tidak sah pernikahan tanpa adanya wali dari mempelai wanita. Sebagaimana sabda Nabi, "Tidak ada nikah kecuali dengan adanya wali.” (HR. Abu Dawud dan At-Turmudzi)

Bila seorang perempuan menikahkan dirinya sendiri baik dengan mengucapkan akad sendiri atau dengan mewakilkan kepada orang lain maka nikahnya tidak sah.

Keempat; Adanya saksi.
Yaitu hadirnya dua saksi pada saat akad nikah. Saksi haruslah orang yang adil dan diterima oleh masyarakat, sebagaimana sabda Nabi, "
Tidak ada nikah kecuali dengan adanya wali dan dua saksi yang adil.” (HR. Abu Dawud dan At-Turmudzi)

Akibat Hukum Pernikahan1. Kewajiban memberi mahar oleh suami kepada istri
2. Kewajiban nafkah atas suami kepada istri
3. Hubungan antara suami dan istri dan keluarganya
4. Timbulnya kemahraman
4. Adanya hukum waris

Minggu, 19 Mei 2013

http://menjadi-waras.blogspot.com/2013/05/iron-man-dan-hulk-bersatu.html

Musim dingin ini, dua yang terbesar pahlawan super bergabung dalam "Marvel Iron Man dan Hulk: Heroes United," Film petualangan animasi pertama Marvel Animation Studios ' tayang perdana 3 Desember pada Blu-ray, DVD dan Digital

Marvel.com : Sementara Iron Man dan Hulk memiliki kesamaan heroik, mereka masih sangat berbeda dengan cara lain. Apa yang membuat Anda memutuskan untuk memperkerjakan dengan dua pahlawan bersama ?

Todd Casey: Pada tingkat yang paling dasar, seorang pria berteknologi tinggi dan barbar. Hulk jauh dari bodoh, tapi dia jauh lebih mendasar - ia memiliki sepasang celana robek dan ia mengalahkan apa pun yang ada di hadapannya. Di sisi lain, Tony Stark memiliki setelan berteknologi maju, "pelayan" dan sebuah kapal terbang. Ini adalah sebuah kerjasama dari kekuatan dan kecerdasan otak.
Apa yang bisa kita harapkan untuk kita lihat dari bergabungnya Ironman dan Hulk ?

Todd Casey: Mereka memecahkan permasalahan secara berbeda, dan kadang-kadang itu berarti kesulitan dan dilain kesempatan itu akan terlihat lucu. Iron Man adalah orang yang akan menonaktifkan sistem keamanan untuk menyelinap ke basis penjahat. sementara Hulk akan memukul hancurkan pintu depan. Kedua - duanya bekerja.
Todd Casey: Kita harus memperpendek sampai sejarah yang mereka miliki dari komik. Dalam komik, dua ini sudah saling kenal selama bertahun-tahun, tapi cerita ini hanya bekerja jika mereka saling mengenal lebih santai. Jadi dengan cara seperti itu, itu lebih dekat ke hubungan mereka di film. Cerita ini bisa berlangsung dalam "Marvel The Avengers" dan sekuel mendatang. Saya tidak memiliki momen favorit dari komik, tapi aku mencintai bahwa Tony percaya bahwa Hulk akan muncul untuk membantu menghentikan invasi alien [dalam film]. Beberapa orang mungkin melihat dia sebagai rakasa ceroboh, tapi Tony langsung tahu ada pahlawan di sana.

Kamis, 16 Mei 2013

Wasiat Sultan Auliya Abdul Qodir Jilani Qsa

Bismilahir Rahmanir rahiim
Alhamdulillah…Alhamdulillah…Alhamdulillah

Satu
Melaksanakan perintah Allah, menjauhi larangan-Nya, dan ridho atas ketentuan-Nya
Tiga hal yang harus dimiliki dan diamalkan oleh setiap mukmin dalam segala ruang dan waktu yaitu:
1. Menjaga dan melaksanakan perintah-perintah Allah dengan tulus ikhlas;
2. Menghindari diri dari segala yang haram baik nyata maupun samar;
3. Ridha menerima takdir Allah Yang Mahakuasa.
Dengan demikian, minimal seseorang yang beriman harus memiliki tiga hal sebagaimana tersebut di atas dan harus diusahakan untuk dapat mendarah daging dalam tubuhnya. Ia harus mengikatkan diri kepada tiga hal ke mana dan di mana dia berada serta dalam keadaan bagaimanapun juga.
Dua
Mengikuti sunnah Rasul SAW, menjauhi bid’ah, dan bersikap istiqamah
1. Seorang muslim harus mengikuti sunnah Rasul SAW dengan penuh keyakinan (keimanan).
2. Seorang muslim tidak sekali-kali melakukan perbuatan bid’ah
3. Seorang muslim harus mematuhi segala yang diperintahkan dan dilarang Allah SWT serta rasul-Nya
4. Seorang muslim harus menjunjung tinggi tauhid, jangan sekali-kali menyekutukan Dia (Allah SWT)
5. Seorang muslim harus menyucikan Dia (Allah) senantiasa, dan jangan sekali-kali menisbahkan suatu keburukan pun kepada-Nya
6. Seorang muslim harus mempertahankan kebenaran-Nya dan hendaklah jangan meragukan sedikitpun atas kebenaran tersebut.
7. Seorang muslim harus bersabar selalu, dalam setiap keadaan dan jangan sekali-kali menunjukan sifat ketidaksabaran.
8. Seorang muslim hendaknya mempunyai sifat isqtiqamah
9. Seorang muslim harus mempunyai pengharapan kepada Allah dengan sabar dan jangan kesal
10. Seorang muslim harus bekerja sama dengan sesama muslim dalam menjalankan amal dan ketaatan, jangan    berpecah-pecah, saling mencintai, dan jangan mendendam
11. Seorang muslim harus menjauhi kejahatan dan jangan sekali-kali ternoda oleh kejahatan tersebut
12. Seorang muslim harus menghiasi dirinya dengan ketaatan kepada Rabbmu, Allah swt.
13. Seorang muslim jangan sekali-kali menjauhi pintu-pintu Allah Swt.
14. Seorang muslim jangan sekali-kali berpaling dari-Nya.
15. Seorang muslim hendaknya menyegerakan bertobat atas dosa yang telah dilakukan, jangan ditunda-tunda.
16. Seorang muslim tidak bosan-bosan untuk memohon ampunan kepada Allah siang dan malam.
Apabila seorang muslim telah berlaku demikian, ia akan mendapatkan rahmat dari Nya dan dijauhkan dari api neraka. Hidup bahagia di surga yang kekal. Kelak di akhirat, ia akan bertemu Allah, menikmati rahmat-Nya.
Di surga, ia bersama bidadari, mengendarai kuda-kuda yang berwarna putih. Bersuka ria dengan hurhur bermata putih, menghirup aneka aroma, dan diiringi melodi-melodi para hamba sahaya wanita yang cantik. Ia akan dimuliakan bersama Nabi, para siddiqin, para syahiddin, dan para salihin lainnya di surga yang tertinggi.
Tiga
Memohon pertolongan kepada Allah Azza wa Jalla
Seandainya seorang hamba Allah mendapatkan kesulitan dalam hidupnya, pertama sekali ia harus berusaha mengatasinya dengan daya dan upayanya sendiri. Jika tak mampu mengatasi kesulitanya sendiri, hendaknya ia meminta pertolongan kepada sesamanya, misalnya kepada pejabat, hartawan, dan penguasa lainnya, atau tetangganya. Jika ia sakit hendaknya pergi ke tabib (dokter). Apabila masih juga tak berhasil, pertolongan terakhir yang diharapkan hendaknya kepada Khaliq-nya (Allah swt), Tuhan Yang Mahabesar lagi Mahakuasa. Caranya ialah dengan memanjatkan doa dengan diiringi kerendahan hati serta pujian-pujian untuk-Nya.
Apabila pertolongan itu tiada kunjung data dari Allah, jangan berputus asa. Ia harus menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah, memuji dan memohon dengan penuh harap dan cemas. Apabila Allah tidak kunjung mengabulkan permohonannya dan doanya, ia harus meninggalkan segala yang berurusan dengan duniawi. Kemudian ia mencurahkan segala-galanya untuk kepentingan rohaninya (kepentingan akhirat).
Pada tingkatan ini, ia akan merasakan atau melihat dengan mata batinya atas kehendak Allah. Dan, sampailah ia kepada keesaan-Nya dan kekuasaan-Nya.
Pada tahap ini ia akan menduduki haqqul yaqin (keyakinan yang hak/tinggi). Keyakinan tentang apakah itu?
Keyakinan yang dimaksudkan ialah tentang hakikat bahwa segala sesuatu itu tiada yang menggerakannya, kecuali Allah, tiada yang menghentikan, kecuali Allah Swt. Tiada kekayaan dan kemiskinan, kecuali Allah yang menghendakinya. Di hadapan Allah, seseorang bagaikan bayi di tangan dukun beranak atau mayat yang dimandikan, atau bola di kaki pemainnya. Tak kuasa apapun, kecuali kehendak Allah Swt. Dengan demikian, ia tak akan melihat, kecuali hanya kepada Allah. Tak akan mendengar, kecuali hanya dari Allah; jika mendapat sesuatu – menyenangkan atau menyedihkan – diyakini semata karena Allah belaka. Jika mendengarkan sesuatu, yang didengar adalah firman Allah melalui ilmu-Nya. Ia akan mendapatkan karunia-Nya dan mendapatkan keberuntungan karena mampu mendekatkan diri kepada-Nya. Ia menjadi mulia, rida atas segala yang dijumpainya. Ia merasa puas atas segala yang menimpanya, baik yang menyenangkan maupun yang menyakitkan .
Akhirnya, ia rindu selalu kepada Allah, ingin terus memuji dan berzikir. Segala sesuatu dalam hidupnya bertumpu kepada Allah semata. Ia mendapatkan nur dari Allah karena ilmu Allah itu sendiri. Ia dimuliakan karena ilmu Allah juga. Dengan begitu, senantiasa puji dan syukur tercurahkan kepada Allah Yang Mahakuasa saja.
Empat
Mengharap rahmat Allah Azza wa Jalla
Jika engkau abaikan ciptaan, semoga Allah merahmatimu . Semoga Allah membunuh kehendakmu (yang tak baik) dan Dia menempatkanmu dalam kehidupan yang baru dan mulia.
Sekarang dirimu mendapatkan karunia berupa kehidupan yang abadi, mendapat kekayaan dan kebahagian yang abadi, dan mendapat rahmat dan ilmu sehingga tak mengenal kebodohan.
Engkau dilindungi Allah dari rasa takut. Engka dimuliakan sehingga tidak hina lagi dan selalu dekat kepada Allah sehingga menjadi tumpuan harapan bagi orang2 yang memohon kepada Allah melalui dirimu.
Kau menjadi pengganti rasul, para nabi dan shadiqqin. Kau adalah puncak wilayat dan para wali yang masih hidup mengerumunimu. Segala masalah dapat engkau selesaikan dan kau temukan jalan keluarnya. Sawah ladang berpanen melimpah ruah berkat doamu. Lenyapnya penderitaan umat juga melalui doamu. Orang-orang banyak yang datang dan bergegas menemuimu membawa bingkisan dan hadiah serta mengabdi kepadamu. Pengabdian dalam segala hal kehidupan. Semua itu karena ijin Sang Pencipta. Mereka senantiasa mendoakanmu. Tak ada dua mukmim yang memperselisihkan engkau. Inilah rahmat Allah SWT, wahai manusia. Dan Allah Pemilik segala rahmat.
Lima
Menghindari dunia
Jika engkau melihat dunia ini berada di tangan orang lain, janganlah takjub Dunia itu memang penuh dengan hiasan, tetapi di sisi lain penuh dengan racun yang mematikan. Tampaknya lembut, tetapi membahayakan bagi yang merabanya. Dunia pada hakikatnya mengecoh dan membuat manusia menyepelekan keburukan dari tipu daya dan janji-janji palsunya.
Apabila melihat yang demikian itu, hendaknya kau berlaku seakan-akan menghadapi orang yang sombong, sewenang-wenang, dan berbau busuk. Ibaratkanlah dunia itu seperti demikian. Jika melihat situasi yang demikian, berpalinglah dari kebusukannya. Tutuplah hidungmu agar tak menghirup bau amisnya. Tutuplah hidung dan telingamu dari bau dan suara hawa nafsu walaupun segala kenikmatan yang tersimpan di dalamnya menghampirimu. Allah SWT telah berfirman kepada nabi pilihannya (Muhammad saw)
وَلا تَمُدَّنَّ عَيْنَيْكَ إِلَى مَا مَتَّعْنَا بِهِ أَزْوَاجًا مِنْهُمْ زَهْرَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا لِنَفْتِنَهُمْ فِيهِ وَرِزْقُ رَبِّكَ خَيْرٌ وَأَبْقَى
Janganlah engkau tujukan kedua matamu kepada (perhiasan) yang kami berikan kepada bermacam-macam orang di antara mereka, sebagai bunga kehidupan di dunia, supaya mereka Kami cobai denganya. Dan rezeki Allah-mu (dalam surga) lebih baik dan lebih kekal (QS 20:131)
Enam
Beribadah hanya karena Allah SWT
Apabila melaksanakan perintah Allah, tanggalkan pandangan manusia yang tertuju kepadamu dan tanggalkan kepentingan pribadimu dan hendaknya engkau tujukan kepada Allah saja.
Untuk menghindari pandangan manusia – yang memuji – atas amalanmu dalam melaksanakan perintah Allah, menghindarlah dari mereka, asingkan diri sepenuhnya dan bebaskan jiwamu dari segala harapan mereka. Lenyapkanlah segala nafsumu. Adapun tanda lenyapnya nafus ialah:
1. meninggalkan kesibukan mengejar duniawi;
2. berhubungan dengan mereka hanya untuk mendapatkan manfaat;
3. cenderung menghindarkan diri dara kemudaratan;
4. tidak mengntungkan diri sendiri dalam masalah pribadi.
5. tidak membantu melindungi diri sendiri, tetapi memasrahkan diri sepenuhnya kepada Allah SWT, karena Dia-lah Yang Mahakuasa.
Kemauan itu dapat lenyap dari jiwamu. Kemauan yang dimaksud ialah yang didorong oleh hawa nafsu. Adapun lenyapnya kemauan atas kehendak Allah itu ditandai sebagai berikut:
1. Tidak pernah menurutkan keinginan, tak merasa butuh, tidak mempunyai tujuan, kecuali hanya satu tujuan dan satu kebutuhan, yakni kepada Allah SWT belaka;
2. kehendak Allah akan berwujud pada dirimu, sehingga jika kehendaknya bereaksi, tubuhmu menjadi pasif, namun hatimu tenang, pikiranmu jernih, nurani dan rohanimu menjadi berseri. Dengan demikian, kebutuhanmu tentang kebendaan kau pasrahkan dan engkau bergantung kepada Allah SWT saja;
3. gerakanmu digerakan oleh kekuasaan-Nya, lidah keabadian memberi hiasan kepadamu berupa nur-Nya yang menempatkan kedududukanmu sejajar dengan ulama hikmah yang telah mendahuluimu.
Jika mampu seperti demikian, niscaya engkah berhasil menaklukan diri sendiri, sehingga dalam ragamu tidak ada “kedirianmu”, laksana bejana yang hancur, bersih dari air dan endapan.
Engkau akan terpisahkan dari segala gerak manusiawi karena rohanimu menolak segala sesuatu. Rohmu hanya menerima kehendak Allah saja. Pada peringkat dan kedudukan seperti ini, engkau akan mendapatkan suatu keajaiban. Hal ini seolah-olah hanya usahamu dalam melatih diri dan rohmu, padahal sebenarnya adalah kehendak Allah belaka.
Pada kedudukan ini, engkau mampu menjadi orang yang dapat menundukan hati sendiri, sifat hewanimu telah musnah. Dengan demikian, engkau akan mendapat ilham atas kehendak Ilahi dan dambaan-dambaan baru dalam kenyataan sehari-hari.
Allah Yang Mahatinggi tak akan bersamamu, jika kedirianmu (nafsu duniawi, hewani, sifat yang merusakan/membutakan hati) belum sirna. Jika ke-dirianmu telah sirna, lalu kau menganggap sesuatu di dunia ini tak ada artinya kecuali Allah, Dia akan memberikan kebugaran dan kesegaran rohani. Allah akan memberi kekuatan rohani dan dengan rohani tersebut, engkau berkehendak.
Jika di dalam dirimu masih juga terdapat noda meskipun sekecil biji dzarah, Allah akan menolakmu agar engkau terus berusaha untuk diterima Allah. Allah pun terus menciptakan kemauan baru dalam dirimu agar engkau tidak merasa puas dengan amal dan ibadah yang kau lakukan, hal ini sampai pada akhir hayatmu.
Dalam sebuah hadis Qudsi, Allah SWT berfirman,
“Hamba-Ku yang beriman senantiasa mendekatkan diri kepada-Ku, yaitu dengan mengerjakan shalat-shalat sunnah yang diutamakan sehingga Aku mencintainya, maka Aku menjadi telinganya, dengannya ia mendengar, dan menjadi matanya, dengannya ia melihat, dan menjadi tangannya, dengannya ia bekerja, dan menjadi kakinya, dengannya ia berjalan. Tak diragukan lagi, demikianlah keadaan fana.”
Oleh sebab itu, Dia menyelamatkanmu dari kejahatan para mahluk-Nya, kemudian mendorongmu dalam kebaikan-Nya. Dengan begitu, engkau akan menjadi pusat kebaikan, sumber rahmat, kebahagian, kenikmatan, semangat, damai dan sentosa.
Para wali terdahulu pun menunaikan ibadah untuk mendekatkan dirinya sedekat mungkin kepada Allah SWT. Itulah yang menjadi tujuannya, tujuan terakhir. Mereka senantiasa beralih dari kehendak yang timbul dari pribadinya sendiri, mengubahnya menjadi kehendak dari Allah. Itulah sebabnya, mereka kemudian disebut “badal” (berubah).
Bagi mereka ini, menggabungkan kehendak dirinya sendiri dengan kehendak Allah adalah dosa.
Apabila mereka terbawa tipuan perasaan2nya sendiri sehingga lalai atau takut, Allah menolong mereka dengan kasih sayang – Nya. Allah akan mengingatkan mereka dan akhirnya mereka sadar dan berlindung kepada Tuhannya. Merekea berlindung dari kemauan pribadinya karena menyadari bahwa mereka tak akan mampu membersihkan dirinya sampai sebersih mungkin dari nafsu dan kemauan, kecuali malaikat. Para malaikat memang suci dari nafsu dan kehendak, para nabi terbebas dari kedirian, sedangkan jin dan manusia tak terlepaskan dari nafsu yang kelak menuntut pertanggungjawaban moral. Akan tetapi, meskipun manusia itu tak dapat terbebas dari nafsu, para wali mampu melemahkan nafsunya sehingga dengan, bantuan Allah, mereka mendapatkan rahmat yang menguatkan akalnya.
Tujuh
Terlepas dari Ketertarikan Dunia
Perbaiki dirimu dan tinggalkan olehmu kegelisahan dunia sesuai kemampuanmu. Nabi Muhammad saw bersabda,” Lepaskan dirimu dari bingungnya urusan dunia, sejauh kemampuanmu “
Kalau kau mengetahui apa yang kau cari, kalau dunia kau peroleh, engkau akan menjumpai kelelahan. Kalau kau menaruh perhatian yang berlebihan pada dunia niscaya kau akan merugi. Bebaskan diri dari urusan dunia, lepaskan perhiasan dunia, lucuti pakaian hawa nafsu. Karena kesungguhan diri beribadah pada Allah adalah sebuah hidayah.
Kalau ingin bahagia, engkau harus memiliki ketenangan lahir dan batin. Bersabarlah atas pemberian Allah, hindari prasangka buruk atasNya, karena Dia menyayangimu. “ Boleh jadi engkau membenci sesuatu, padahal itu amat baik bagimu, dan boleh jadi pula engkau menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu” (Al Baqarah 216)
Barangsiapa menginginkan jalan menuju keridhaan Allah , maka didiklah hawa nafsumu sebelum mendidik perbuatanmu. Bersungguh2lah sampai engkau mendapat ketenangan. Jangan turuti nafsu kecuali engkau telah melatih nafsumu dengan pelajaran dan perilaku baik. Dengan bersungguh2 mata akan terbuka dan kebodohan tak akan menghampiri kita. Hal ini membutuhkan pengikat dan waktu yang panjang, tidak dating begitu saja.
Pukullah nafsumu dengan cambuk lapar, cegahlah kehendaknya. Engkau harus bisa bertahan, karena nafsu hanya bisa berdusta dan tak pernah benar. Janjinya bohong dan Iblis adalah pentolannya. Dia tak punya kekuatan untuk memusuhi orang yang beriman.
Allah tidak memberi cobaan kepadamu kecuali disana ada hikmah dan faedah.
Kalau kau didera musibah, ingatlah dosa2mu. Mohonlah kesabaran padaNYA, perbanyak istigfar dan bertaubat lah segera. Bergaulah dengan para kekasih Allah, alim ulama dan teman yang bila kau melihatnya, mengingatkanmu akan Allah.
Wahai para pelanglang buana, Wahai para pelancong dunia, Peganglah erat-erat petunjukKu, Hingga sampai ditujuan, jangan kau keluar dari petunjuk, maka kau akan Kuberi petunjuk.
Bagaimana kau akan berperilaku baik, kalau tak berteman dengan Kawan yang berperilaku sopan santun
Bagaimana kau akan menimba ilmu, kalau kau tak senang dengan gurumu.
Syekh Abdul Qadir Jailani,
“Dudukkanlah dirimu bersama kehidupan duniawi, sedangkan kalbumu bersama kehidupan akhirat, dan rasamu bersama Rabbmu.”
delapan
Lepas dari kemaksiatan
Wahai orang muda, janganlah engkau berputus asa daripada Rahmat Allah ‘Azza wa Jall kerana kemaksiatan yang telah engkau lakukan. Bersihkanlah kotoran dari pakaian agamamu dengan air taubat, dengan taubat yang istiqomah dan ikhlas. Kemudian, harumkanlah pakaian agamamu itu dengan (air wangi) ma‘rifah. Berhati-hatilah engkau dengan kedudukanmu sekarang kerana ke arah mana pun engkau toleh, terdapat hewan-hewan yang buas sedang berada di sekeliling dirimu, dan pengaruh-pengaruh jahat yang merusak pula sedang bertindak ke atas dirimu. Lepaskanlah dirimu daripadanya dan kembalikanlah hatimu kepada al-Haqq ‘Azza wa Jall.
Ada seorang insan yang telah berkata: “Aku ingin menjadi salah seorang daripada orang-orang yang mencari WajahNya. Hatiku telah terpandang Pintu Kedekatan (Bab al-Qurb) dan aku telah melihat para kekasih memasukinya dan kemudian telah keluar memakai pakaian-pakaian yang telah dianugerahkan oleh al-Malik (Raja, yakni Allah Ta‘la.) Apakah balasan untuk memasukinya?”
Kepadanya, aku telah menjawab: “Hendaklah engkau korbankan seluruh dirimu. Tinggalkan segala kehendak syahwat dan segala rasa kelazatan. Lenyapkan dirimu di dalamNya. Ucapkan selamat tinggal kepada segala taman syurga dan segala isi kandungannya, dan tinggalkanlah ia. Ucapkan selamat jalan kepada nafsu, hawa dan tabiat-tabiat. Ucapkan selamat jalan kepada segala keinginan, sama ada yang berbentuk keduniaan ataupun keakhiratan. Ucapkan selamat tinggal kepada setiap sesuatu dan engkau tinggalkannya di belakang hatimu. Setelah itu, masuklah. Engkau akan melihat apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, yang tidak pernah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah terlintas di hati manusia.”
Sufi ialah seorang manusia yang telah bersih batinnya dan juga zahirnya, dengan mengikuti kitab Allah ‘Azza wa Jall dan sunnah rasulNya. Dan jika kebersihannya sudah bertambah, dia akan keluar dari lautan kewujudannya, dan meninggalkan segala kehendak, ikhtiar dan keinginannya, kerana kebersihan hatinya.
Asas kebaikan ialah dengan menuruti an-NabÏ SallAllahu ‘alaihi wa sallam pada (seluruh) perkataannya dan perbuatannya.
Apabila hati si hamba (qalb al-‘abd) telah bersih, dia akan dapat melihat an-Nabi SallAllahu ‘alaihi wa sallam di dalam tidurnya, yang akan memberitahunya tentang apa yang harus dilakukan dan apa yang harus dijauhkan.
Seluruh dirinya akan menjadi sekeping hati, dan terpisah dengan niatnya. Dia akan menjadi sebuah rahsia tanpa penyataan, satu kebersihan tanpa kekeruhan. Kulit zahirnya akan tertanggal dari dirinya, sehingga yang tinggal adalah isi (lubb) tanpa kulit.
Dia akan bersama an-Nabiyullah Sallallahu ‘alaihi wa sallam dari segi maknawi, yang akan melatih hatinya dan berada di hadapannya. Tangannya berada di dalam tangan baginda Sallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan an-Nabi Sallallahu ‘alaihi wa sallam akan menjadi penasihat mengenaiNya, dan penjaga pintuNya.
Di dalam sebuah mimpi, seorang lelaki tua telah bertanya kepada diriku , “Apakah yang dapat membawa seorang hamba itu dekat dengan Allah ‘Azza wa Jalla?”
Maka aku telah menjawab, “Baginya satu permulaan dan satu kesudahan. Permulaannya ialah wara’ dan kesudahannya ialah penerimaan, penyerahan (at-taslim) dan persandaraan (at-tawakkul).”
Apabila seseorang itu bersikap benar dan ikhlas dengan Tuhan, dia tidak lagi mempedulikan setiap sesuatu selain daripadaNya, pada siang atau malam hari.
Wahai manusia, janganlah mengaku apa yang bukan milikmu. Esakanlah Allah dan janganlah mempersekutukanNya. Demi Allah (dengan melakukan yang demikian), apabila sampai panah takdir kepadamu, ia hanya akan mencalar dan tidak pula membunuhmu.
Siapa saja yang menginginkan kejayaan (al-falah), hendaklah dia menjadi sekeping tanah di bawah tapak kaki para masyaikh (para Mursyid).
Apakah ciri-ciri para masyaikh itu? Mereka adalah orang-orang yang telah menceraikan dunia dan segala makhluk, dan telah mengucapkan selamat tinggal kepada kedua-duanya (yakni dunia dan segala makhluk). Mereka juga telah mengucapkan selamat tinggal kepada setiap sesuatu, dari bawah al-‘arsy hinggalah ke dasar bumi . Mereka telah meninggalkan setiap sesuatu itu di belakang mereka, dan telah mengucapkan selamat tinggal sebagai seorang yang tidak akan kembali lagi. Mereka telah mengucapkan selamat tinggal kepada seluruh makhluk, termasuk diri mereka sendiri. Wujud mereka adalah bersama-sama Allah, pada setiap keadaan.
Siapa yang menuntut kecintaan Allah (namun masih) disertai dengan kewujudan nafsunya, maka dia sedang berkhayal dan berangan-angan.
Kebanyakan daripada mereka dari golongan al-mutazahhidin al-muta‘abbidin (orang-orang yang cuba menyerupai kaum Zuhud dan ahli ibadah), pada hakikatnya, adalah hamba-hamba para makhluk, yang telah mereka syirikkan (yakni menjadikannya sekutu bagi Allah).
Berdirilah engkau sekelian di hadapanNya di atas tapak-tapak kaki (aqdam) yang telah muflis daripada akal-akal fikiranmu dan ilmu-ilmumu, agar engkau sekalian dapat mengambil ilmu daripadaNya.
Janganlah merasa sangsi terhadapNya apabila Dia menunda Ijabah. Janganlah berputus asa dalam berdoa kepadaNya. Jika engkau tidak menerima apa-apa keuntungan, maka tidak pula engkau menanggung apa-apa kerugian. Jika Dia tidak memperkenankannya dengan serta-merta, maka Dia akan memberikan engkau gantinya di Hari Kemudian.
Selagi kecintaan kepada dunia kekal di hatimu, tiada akan melihat engkau sesuatu daripada ahwal as-Salihin. Selagi engkau meminta-minta dari makhluk dan mempersekutukan (Allah) dengan mereka, tiada akan terbuka mata hatimu. Tiadalah kata-kata itu sehingga engkau berzuhud dari dunia dan makhluk. Bersungguh-sungguhlah engkau. Engkau akan melihat apa yang tidak dilihat oleh orang lain, dan akan terlepas bagimu adat.
Jika engkau tinggalkan apa yang di dalam hitunganmu (hisab) akan datang kepadamu apa yang bukan di dalam hitunganmu. Apabila engkau bergantung penuh kepada al-Haqq ‘Azza wa Jall, dan bertaqwa di dalam khalwah dan di khalayak ramai, Dia akan mengaruniakanmu rezeki yang tidak disangka-sangka (la yahtasib). Engkau tinggalkan, Dia berikan. Engkau berzuhud, Dia temukan hajatmu.
Di peringkat permulaan, (ialah) meninggalkan. Di peringkat akhir, (ialah) pengambilan. Di awal urusan ini, ialah pemberatan kalbu dengan meninggalkan segala syahwat dan dunia, dan di akhirnya ialah pengambilannya. Yang pertama ialah bagi al-Muttaqin, dan yang kedua ialah bagi al-Abdal, yang telah sampai (al-wasilinn) kepada ketaatan (kepada) Allah ‘Azza wa Jall.
Kata-kata itu tidak sesuai untuk diucapkan sehingga segala tuhan-tuhanmu menjadi Tuhan yang satu, sehingga segala keinginanmu menjadi satu, dan sehingga segala tumpuan cintamu menjadi satu.
Hatimu hendaklah dijadikan satu. Bilakah kedekatan kepada al-Haqq dapat mendirikan kemahnya di dalam hatimu? Kapan hatimu akan menjadi majdhub (tertarik) dan sirr-mu menjadi muqarrab (didekatkan)? Dan kapankah segera engkau dapat menemui Tuhanmu, setelah engkau mengucapkan selamat tinggal kepada segala makhluk?
“Di dalam sebuah Mimpi seorang lelaki tua telah bertanya kepadaku. . ..
Wahai WaliulLah apakah yg dapat membawa seorang hamba itu dekat dengan
Allah SWT . . . . ?!
lalu aku telah menjawab kepadamu wahai Mubarok !
baginya ada 2 perkara yaitu . . .
1.PERMULAAN
yaitu jadi lah kamu org yg Wara’
(senantiasa menjauhkan diri dr segala macam Dosa)
2.KESUDAHAN
jadilah Org Yg Qona’ah !
Mendengar jawaban yg singkat dan padat tersebut . . .
Lelaki tua itupun Pergi dgn hati yg damai !
dan nampak Bersinar wajah yg sudah dimakan usia tersebut ”
Mudah2 kisah diatas dapat menjadikan kita yang di Tarekat Qodiriyah ini di berikan kekuatan  Islam,Iman Dan Ikhsan dan di Anugerahkan  oleh
Al-Haqq Allah azza wa jalla . Amin.

Syaikh Junaidi Al-Baghdadi R.a

Nasihat Spiritual Maulana Syaikh Junaid al Baghdadi

Dengan nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.
Syeikh Abul Oasim al-Junaid bin Muhammad – rahimahullah — berkata :
“Semoga Allah mengkhususkan dirimu untuk taat kepada-Nya; memberi peluang kepadamu untuk selaras dengan-Nya; menjadikanmu sebagai penghuni kewalian-Nya; memilihmu untuk mahabbah cinta-Nya; mengegaskan dirimu untuk menuju kepada-Nya; menetapkan padamu menurut ilmu kehendak-Nya; menjadikan perbuatanmu dengan ilmu yang dikehendaki-Nya; mengembalikan dirimu untuk memperhatikan pada kesimpulan pemahaman tentang Diri-Nya; menghalangi antara dirimu dengan berbagai halangan yang memenggal dan rantai yang merintang; menjadikan ucapan-ucapanmu diridhai di hadapan-Nya dan di sisi-Nya pula engkau dalam keadaan bersih; mencukupkan dirimu upah setiap yang sibuk dengan-Nya; memberi luang kepadamu untuk bakti kepada-Nya; menyenangkan dirimu dengan memasrahkan persoalan kepada-Nya; menghalangi antara dirimu dari setiap pencegah di jalan penempuhan kepada-Nya; dan menjadikan raja penolong pada setiap hasratmu yang membuatmu tidak bahagia dalam Menempuh ridha-Nya di sisi-Nya, sesungguhnya Dia adalah Pelimpah kenikmatan dan yang Mencukupi berbagai hasrat kepentingan.
Seyogyanya bagi orang yang berakal (sehat) untuk tidak mengabaikan salah satu dari tempat ini:
Tempat dimana seseorang apakah kondisi ruhaninya bertambah atau berkurang;
Tempat dimana ia berkhalwat dengan mendidik dirinya, berdisiplinlah pada aturan yang harus dilakukannya (dan mendalami penyelidikan pengetahuannya);
Tempat dimana akalnya dihadirkan untuk memandang aturan-Nya; bagaimana aturan-aturan bisa berbeda-beda; baik disaat telah malam mupun disiang hari. Akal tidak bisa jernih manakala tidak mampu kondisi terakhir tersebut, kecuali dengan menepati aturan yang seharusnya dilakukan dari aturan-aturan pada kedua kondisi ruhani yang pertama.
Sementara tempat-tempat dimana ia harus mengenal kondisi ruhaninya, apakah bertambah atau berkurang, ia harus melakukan khalwat agar tidak direpotkan oleh gangguan kesibukan yang merusak introspeksinya; yang kelak bisa dilanjutkan dengan arah menuju penyelarasan disiplin penunaian kewajiban, dimana perilaku taqarrubnya tidak akan jernih kecuali dengan memenuhi kewajiban-kewajiban fardhu. Kemudian bangkit, sebagaimana bangkitnya hamba di hadapan Tuhannya yang ingin melaksanakan perintah-Nya. Maka pada saat demikian, terbukalah baginya rahasia-rahasia dirinya yang tersembunyi. Ia akan tahu apakah ia termasuk orang yang telah menunaikan kewajiban atau belum, kemudian ia tidak ragu dengan posisinya hingga adanya bukti ilmu yang menyibaknya. Apabila ia melihat adanya cacat, segera memperbaikinya, dan tidak menjalankan amal selain amal itu. Perilaku demikian ini merupakan kondisi ahli shidq. “Dan Allah mengokohkan melalui pertolongan-Nya kepada orang yang dikehendaki-Nya, sesungguhnya Allah Maha Kuat lagi Perkasa.”
Sedangkan tempat-tempat khalwat untuk mendidik diri dan mendalam kondisi pengetahuannya, maka seharusnya bagi yang menuju arah ini, dan ingin mendapatkan nasihat dalam beramal — maka kadang-kadang berbagai hal itu menipu dirinya — dimana batas sebenarnya tidak diketahui kecuali oleh orang yang teliti mata hatinya. Apa sebenarnya yang terjadi di sana, berupa dorongan mencintai perbuatan baik.
Sebab diri itu bila cenderung untuk berbuat baik, akan menjadi etika pada dirinya, dan diri tenteram pada tempat yang menjadi keahliannya, sekaligus ia akan membelot dengannya. Diri melihat yang berlaku padanya, berupa tindakan kebaikan tersebut sebagai kemampuannya, kemudian musuh yang mendiami. mengintai untuk menghancurkannya, mengalir melalui tempat berjalannya darah. Musuh itu mengancam dengan kekuatan tipu dayanya pada kealpaan yang tersembunyi, lalu ia merampasnya melalui kecondongan hawa nafsu, yang tak ada lagi jalan kecuali melalui kondisi tersebut, bila ia tidak merasakan rampasannya, ia mendorong dari dirinya dan mengenal dirinya untuk lebih bergegas kembali kepada Dzat yang tidak bisa menjamin kecuali dengan-Nya. Kemudian ia meneliti dirinya lebih mendalam seketika dimana musuh bisa meraihnya. Lalu ia menjaganya dengan kenikmatan bersegera, mencari pertolongan dan rasa butuh yang sangat serta mencari sandaran, sebagaimana Nabi yang mulia, putra Nabi yang mulia, Yusuf bin Ya’qub bin Ibrahim –alaihim as-salam:”Dan jika tidak Engkau hindarkan dari padaku tipu daya mereka, tentu aku akan cenderung untuk (memenuhi keinginan mereka) dan tentulah aku termasuk orang-orang yang bodoh.” (Q.s. Yusuf: 33).
Yusuf as, mengetahui bahwa tipu daya musuh dengan kekuatan hawa nafsu, tidak akan bisa dihindari dengan kekuatan diri.”Maka Tuhannya memperkenankan doa Yusuf, dan Dia menghindarkan Yusuf dari tipu daya mereka. Sesunggahnya Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Q.s. Yusuf: 34).
Adapun tempat-tempat yang menjadi tempat presentasi akalnya untuk memandang tempat berlakunya aturan hukum, dan bagaimana Dia membalik aturan, adalah tempat paling utama dan paling luhur. Sebab Allah swt. memerintahkan seluruh makhluk-Nya agar terus-menerus beribadah dan tidak bosan-bosan berbakti kepada-Nya. Firman-Nya:”Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku.” (Q.s. Adz-Dzaariyaat: 56).
Dan para hamba itu mendapatkan jaminan di dunia, sementara di akhirat mendapatkan pahala. Allah swt. berfirman:”Wahai orang-orang yang beriman, ruku’lah, dan sujudlah, serta sembahlah Tuhanmu, dan berbuatlah kebaikan agar kamu mendapatkan kebahagiaan.” (Q.s. Al-Hajj: 77).
Semua itu merupakan ibadah yang diharuskan kepada semua makhluk, dan Dia menetapkan agar diketahui bagaimana aturan-aturan itu dilaksanakan. Allah swt. juga memaparkan keluhuran ilmu dan pengetahuan. Dia berfirman, “Setiap hari Dia dengan urusan.” (Q.s. Ar-Rahman: 29). Yakni urusan makhluk.
Engkau — wahai orang yang berdiri teguh — agar selalu melihat bahwa dirimu merupakan makhluk dengan urusannya. Apakah engkau mengetahui perilakumu itu diridhai di sisi-Nya? Tak seorang pun mampu menghadirkan akalnya kecuali dengan memalingkan diri dari dunia dan seisinya (di sisi-Nya), keluar dari arah-Nya. Apabila dunia usai, hangus, dan hangus pula penghuninya, berpaling dari hati, maka menjadi sunyi dengan bercakap-cakap pada pelaksanaan dan beragamnya aturan serta rincian pembagian. Hati tidak akan kembali, pada suatu yang sifatnya mengambil manfaat dari dunia ini yang mana, hati telah keluar dan lari dari dunia.
Tidakkah engkau melihat ketika Haritsah berkata, “Diriku telah jemu dari dunia.” Kemudian ia melanjutkan, “Seakan aku melihat Arasy Tuhanku begitu jelas. Seakan-akan aku saling mengunjungi antara ahli surga, seakan-akan, seakan…” Demikianlah kondisi sebagian kaum Sufi.
Oleh sebab itu, wahai saudaraku, berhasratlah beramal untuk menyelamatkan dirimu, keikhlasan pembebasan diri dari perbudakan nafsu yang hina, dan menyelamatkan diri dari bercakap-cakap pada penghuni dunia. Setiap jiwa yang merasakan lalainya kealpaan setetes saja, pasti akan ditimpa kekerasan hati yang memabukkan akal dan menghanguskan pengetahuan, fitnah akan masuk dengan cara yang halus. Siapa yang membuka tutup bencana, akan terbuka pula tutup kandungan. Ia tidak akan menikmati sepoi-sepoi lezatnya beramal.
Sungguh bahagia kaum yang memandang mereka, mengikuti mereka dan menunjukkan mereka jalan yang ringkas. Mendudukkan mereka pada argumentasi yang menyelamatkan, memberi cahaya dakwah mereka untuk memahami yang tersembunyi, melalui diskusi pemahaman perintah, ketika Allah swt. berfirman:”Bergegaslah kamu menuju ampunan dari Tuhanmu, dan surga yang luasnya seluas langit dan bagi yang disediakan bagi orang-orang yang takwa.” (Q.s. Ali Imran: 133).
Kemudian akal bangkit yang disertai semangat fisik dengan pengarahan yang baik, untuk menegakkan apa yang menjadi bagian mereka di hadapan orang yang peduli pada ajakannya, dan mata menjadi sejuk dan gembira karena apa yang telah disampaikan kepada mereka melalui khalwat. Maka ia pun berkhalwat bersama mereka yang tidak senang menempuh jalan selain jalan-Nya, tidak ber-tawassul kepada-Nya kecuali dengan-Nya, dan mereka tidak meminta sesuatu kecuali agar dilangsungkan khidmah kepada-Nya, pertolongan yang baik dalam berselaras dengan-Nya. Para musuh putus asa dengan mereka, wibawa hawa nafsu telah mati di hadapan mereka, sedangkan mata cinta menyejukkan mereka. Mereka tidak ingin meraih apa-apa yang lebih besar dibanding apa yang diraihnya, tidak ingin memperoleh nikmat dibanding apa yang telah dianugerahkan kepada mereka, tidak pula menginginkan daya. Mereka dijernihkan oleh ilmu, dan muamalah (ibadah) telah mendidik mereka, sementara mereka dimuliakan oleh sikap memastikan hanya kepada Allah Ta’ala dan mereka tidak membutuhkan selain kepada-Nya. Mereka adalah para yang dicari Allah dan pencari-Nya; pecinta Allah dan kekasih-kekasih-Nya. Orang-orang berhasrat rindu memandang mereka, dan merasa rugi berpisah dengan mereka, dan amat gembira bisa berbicara dengan mereka. Allah menghendaki mereka dan mereka pun menghendaki-Nya, mereka mencari Allah dan mereka pun menemukan-Nya.Maka, barangsiapa ingin selamat, bergegaslah meraih ruh kehidupan, dengan mencari hubungan pada anugerah-Nya. Karena sesungguhnya Allah itu adalah harapan para wali, cita-cita para cendekiawan, yang dicari orang-orang Sufi. Kalau bukan karena-Nya, mereka pun tak akan mendapatkan petunjuk menuju kepada-Nya.
Siapa yang — Allah –menyebut mereka, Allah akan menunjukkan kepada-Nya. Petunjuk itu tidak menghimpit hati mereka, dan Allah tidak memberi beban yang tidak kuat untuk dilakukan oleh mereka yang lain, bahkan Allah tidak menjauhi mereka dan tidak menyingkirkan jiwa-jiwa mereka. Allah tidak menyiksa mereka atas kelalaian mereka. Bahkan memberi nikmat mereka melalui penerimaan udzur ketika menerima mereka, memaafkan atas ketidakmampuan fisik mereka, dan mendudukkan mereka dengan persahabatan yang indah. Memperkuat komitmen mereka dengan tradisi generasi ummat-ummat terdahulu dengan beban yang baik. Membersihkan mereka dari azab yang dahsyat, memberi petunjuk mereka jalan syukur dan ridha di sisi-Nya, mengasihi antara mereka dan para pengamat keserupaan dan problema. Allah menjaga hati, mata dan pendengaran mereka dari mendekat pada kebinasaan. Dan mereka pun menjaga diri dari membincangkan sesuatu dari kebinasaan; Sesuatu yang merusak, dan tragedi dunia menjadi sesuatu yang hina di mata mereka. Mereka merasa senang atas pilihan yang diberikan Wali mereka. Taqarrub mereka adalah penyucian, tasbih, pambagusan, dan tahlil. Rasa senang dan sejuk mereka ada pada ketika mereka bermunajat. Tak ada yang menghalangi mereka ketika Mereka bertemu dengan-Nya di akhirat.
Bahwasanya, makhluk itu terputus dari Allah Azza wa Jalla, karena mereka mengikuti hawa nafsu, patuh pada lawan-lawannya, membincangkan bunga-bunga dunia, memprioritas apa yang menghancurkan dan meninggalkan apa yang mengabadikan.Karena itu bergegaslah saudaraku, untuk memperbaiki kesalahan umur yang berlalu, kealpaan dan penyimpangan serta kelambatan, dalam, rangka menjaga sisa usiamu dengan cara bangkit, takut, tekun, waspada sebelum waktu berlalu, datangnya maut. Sebab Allah tidak ridha kepada generasi sesudahnya kecuali beramal sebagaimana amal yang diridhai pada generasi sebelumnya. Karena itu leluaskanlah dirimu dalam pembebasan belenggu dengan menanggalkan pakaian yang merepotkan. Sebab suatu hari Allah swt. akan membuka segala aib, pada hari itu amal-amal ditampakkan. Hari, dimana seorang saksi atau teman, tidak bisa menolong dengan amalnya, dan tak seorang pun mengharapkan, kecuali pada pengampunan dan maaf dari Tuhannya. Suatu hari, yang begitu banyak penyesalannya, begitu kuat caciannya.
Mulai saat ini, semampang permintaan maaf diterima dan waktu masih luang, amal masih terbentang, tobat masih diterima, dosa bisa dihapus oleh inabah, penyesalan dan kata-kata masih didengar, kebajikan masih diikuti, kebenaran masih jelas, jalan begitu gamblang, dan hujjah masih kokoh.Hujjah yang benar itu hanya bagi Allah, seandainya Dia menghendaki, niscaya Dia memberi petunjuk kepadamu semua. Sedangkan pengaruh kehendak hidayah itu sangat jelas di mata orang yang mendapatkan hidayah. Di antara tanda orang yang mendapatkan hidayah adalah memiliki sifat-sifat, antara lain ringan taat, “Cinta penyelarasan dengan-Nya, melihat diri sendiri dengan mata hina, memutuskan diri untuk menegakkan kewajiban, kasih sayang, persaudaraan, penyucian, saling mencintai, saling menolong, memprioritaskan kepada ahli taqarrub dan mereka yang menuju Dzat Allah Azza wa Jalla dibanding diri mereka sendiri, memberi bantuan kepada ahli kewalian, bergerak menjauhi perkara yang diharamkan Allah, ridha yang disertai sabar atas persoalan yang berlalu, merasa ringan dan ringan dalam memberi upah, teliti, detil serta hati-hati, dan menghargai waktu. Berpijak pada sikap yang ala kadarnya dalam memberikan kegembiraan kepada orang lain, bergaul dan duduk bersama mereka. Tidak mengungul-ungulkan mereka, yang dalam konteks ini, Allah berwasiat kepada Nabiyullah saw.:”Dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan kehidupan dunia ini.” (Q.s. Al-khafi :28)
Semoga Allah menjadikan kami dan kalian tergolong orang yang mengetahui Hak Allah dan mengamalkannya. Sibuk dengan Hak Allah dan tidak disibukkan oleh faktor yang mengabaikan Hak Allah itu. Semoga Allah melindungi kami dan engkau, sepanjang perlindungan-Nya kepada kita serta memperbagus pertolongan-Nya kepada kita. Hendaknya engkau benar-benar menunaikan syukur dan melanggengkan dzikir. Dia-lah Pelimpah Kebajikan, Yang Menjanjikan surga bagi hamba-Nya, dan Mengancam mereka dengan neraka,Kitab ini selesai seiring dengan memuji Allah dan anugerah-Nya. Semoga shalawat dan salamnya terlimpah kepada junjungan kita Muhammad dan seluruh keluarganya.
—(ooo)—

Kisah Murid Yang Takabur

Seorang murid Syaikh Junaid merasa telah mencapai derajat kesempurnaan.
“Lebih baik aku menyendiri,” pikirnya.
Maka ia pun menyendiri di sebuah sudut kamarnya dan duduk di sana selama beberapa waktu. Setiap malam, seekor unta dibawa ke hadapannya dan dikatakan padanya, “Kami akan membawamu ke surga.” Ia pun menunggangi unta itu dan berkendara sampai tiba di sebuah tempat yang menyenangkan dan membahagiakan, tempat yang dipenuhi oleh orang orang tampan. Di sana berlimpah berbagai jenis makanan dan air yang mengalir. Ia tinggal di sana hingga fajar; kemudian ia akan tertidur dan telah berada di kamarnya ketika terjaga. Ia pun menjadi bangga dan sombong karena hal ini.
“Setiap malam aku dibawa ke surga,” katanya membanggakan diri dihadapan murid-murid yang lainnya.
Kata-katanya ini sampai kepada Syaikh Junaid. Maka Syaikh Junaid pun mendatangi kamar muridnya itu. Di sana Syaikh menemukannya mempraktekan tatakrama yang tinggi.
Syaikh Junaid bertanya padanya tentang apa yang terjadi. Si murid pun menceritakan keseluruhan cerita kepadanya.
“Malam ini, saat engkau dibawa ke sana, ucapkanlah tiga kali: ‘Laa Haula walaa Quwwata Illa Billahil ‘Aliyyil ‘Adzim” kata Syaikh Junaid.
Malam itu si murid mengalami apa yang biasanya terjadi. Dalam hatinya, ia tidak mempercayai apa yang telah dikatakan oleh sang syaikh kepadanya. Namun, bagaimanapun juga, saat ia tiba di tempat itu, ia coba coba mengucapkan: “Tiada daya dan kekuatan kecuali dengan izin Allah, Yang Maha Tinggi, Yang Maha Agung.” Seketika, semua yang ada di sana berteriak dan pergi melarikan diri. Ia menemukan dirinya berada di atas gundukan kotoran hewan dengan tulang-tulang berserakan di sekitarnya. Menyadari kesalahannya, ia pun bertobat dan kembali ke majelis Syaikh Junaid.
Ia telah belajar bahwa bagi seorang murid, menyendiri adalah racun yang mematikan.

Kisah Syaikh Junaid Ketika Sakit Matanya

Suatu kali, Hadhrat Maulana Syaikh Junaid al Baghdadi menderita sakit mata. Beliau Pun memanggil seorang tabib.
Tabib itu berkata, “Jika matamu terasa berdenyut denyut, jangan biarkan matamu itu terkena air,”
Namun ketika tiba waktu shalat, Syaikh Junaid malah berwudhu, shalat, kemudian pergi tidur. Ketika ia bangun, matanya telah sembuh. Ia mendengar sebuah Suara berkata, ‘Junaid mengabaikan matanya demi memilih keridhaan Kami. Jika, demi tujuan yang sama, ia memohon ampunan bagi para penghuni neraka, niscaya permohonannya akan Kami kabulkan’.”
Keesokan harinya, sang tabib kembali mendatangi Syaikh Junaid dan melihat bahwa mata Junaid telah sembuh. “Apa yang telah engkau lakukan?” tanya sang tabib keheranan.”Aku berwudhu untuk shalat,” jawab Syaikh Junaid.
Seketika itu pula sang tabib, yang beragama Kristen, mengucapkan dua kalimat syahadat.”Ini adalah penyembuhan Sang Pencipta, bukan penyembuhan makhluk,” komentar tabib tersebut. “Wahai Syaikh matakulah yang sakit, bukan matamu. Engkaulah tabib yang sebenarnya, bukan aku.”

Uluhiyyah

Dengan Nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.Al-Haq (Allah swt.) mengasingkan diri bersama mereka, dan sifat Uluhiyah di-tajrid-kan bagi mereka. Maka, awal limpahan pengetahuan Al-Haq datang melalui penyaksian-penyaksian penampakan-Nya, dan turun-Nya kepada mereka pada awal Uluhiyah. Ke-Azalian turun pada keabadian, dan kelanggengan baqa’, sampai pada yang tiada hingga, tiada pangkal. Setelah itu, diikuti dengan sifat Penyaksi yang Menghadang penuh Perkasa; Keangkuhan tiada tara, Tampilnya paksaan, Tingginya Kesombongan, Pemaksa kekuasaan dan Dahsyatnya pelenyapan, Agungnya kebesaran dan Agungnya keperkasaan. Dengan hal demikian, lalu Dia mengasingkan Diri, Maha Besar dan Maha Luhur dengan Keagungan. Al-Haq Tegak, bersama Al-Haq untuk Al-Haq. Al-Haq bersama Al-Haq sebagai Hakim bagi hukum.Dia Esa dalam Kemandirian Perkasa-Nya, Esa, Sendiri dan segalanya bergantung kepada-Nya. inilah awal penyaksian Turun-Nya kepada orang yang dilimpahi Nama ini, dan orang itu ditempati Nama tersebut di hadapan-Nya. Hal itu diiringi dalam penjagaan benteng-Nya dengan-Nya dan bagi-Nya dari Asmaul Husna-Nya, baik yang ditunjukkan atau belum, berupa Asma-asma al-Jam’u mat-Tafriqah sekehendak-Nya ketika dalam penampakan maupun penyembunyian. Diantaranya ada yang jelas dalam pembuktiannya dan gamblang dalam wilayah pencariannya, terlihat sebab akibat arahnya, beristirahat dalam tempat-tempatnya, di sana dan di sini dalam kendaraannya. Lantas sifat-sifat menjadi fana’ dengan melintasnya penghimpunan menurut teknis hakikat, yang kemudian ditutupinya. Di dalamnya tersembunyi, lalu dihilangkan. Padanya terhampar lalu disimpannya. Semula mendiami lalu dibinasakan. Ketika dikalahkan lalu dipaksanya. Lalu keasingan-keasingannya musnah berpisah tanpa sambung; membubung dengan susunan namun tanpa jenis aturan. Lalu meninggi dengan dzahir nya, dan penampakan keruntuhannya melalui pemandirian hukum-hukumnya. Lalu pada saat seperti itulah, bercerai-berai lenyap; kesombongan saling menyombong; keperkasaan saling memerkasakan, lalu pada kala seperti itu, muncullah “mana”-nya “mana”, (ainal ain) padahal “mana” itu tidak menempati waktu (masa).
Lalu ke manakah perginya “mana” menurut kelanggengan Azalinya? Sedangkan mana yang tidak mana bagi-Nya, dan tidak di mana di dalamnya berada dalam Kemandirian Uluhiyah. Itulah sebagian apa yang dihamparkan Al-Haq dengan-Nya dalam Nama Al-Jam’u.Kemudian berlaku kepada mereka sesuatu yang berlaku dalam pandangan, dalam bukti penyaksian yang mempertemukan Al-Haq, kepada siapa pun yang demikian sifatnya atas nama-Nya Yang Sendiri dan ilmu-Nya yang murni. Ini merupakan isyarat yang tidak bisa diulas lebih banyak. Dan tidak memahami jenis isyarat itu kecuali dengan keadaan yang telah kami sebutkan di atas. Banyak yang telah diliputi uraian tersebut, namun aku tidak mampu mengungkapkannya.
Raihlah melalui sesuatu yang tidak bisa diraih kecuali dengan-Nya, manakala mengetahui Al-Haq dengan pengetahuanmu dan di dalam pemahamanmu.Maka di antara sebagian yang dipertemukan oleh Al-Haq dalam Nama at-Tafriqah adalah: Nama itu ditahan oleh penampakan sesuatu yang dipakai oleh mereka, dan dipakainya untuk menjelaskan apa yang mereka tahan. Mereka dalam laku permukaannya penuh dengan kesaksian-kesaksian yang rahasia terpendam. Manakala diperlihatkan apa yang mereka teliti, tenggelamlah tempat penemuan oleh ketersembunyian rahasiannya. Mereka dalam penyaksian-penyaksian apa yang ditampakkan kepada mereka menurut kebisaaan apa yang diperlihatkan kepada mereka. Lalu mereka melihat pancaran apa yang sedang dilihatnya; yaitu melihat pancaran rahasia yang terjaga, yang mengguncang mereka dalam penampakan apa yang tersembunyi itu. Hal itu terjadi ketika belum diberikannya sifat ini kepada mereka pada tirai yang asing. Lalu ditampakkan bukti kesaksian pencurahan dan pelimpahan rasa kasihan dari perkara yang mendahului. Mereka ditampakkan dengan-Nya ketika mereka diterima oleh-Nya bersama-Nya. Dan pengagungan kedudukan-Nya di sisi mereka, melalui berita-berita adanya penemuan yang terpenuhi, dan pemenuhan pada setiap yang dicintai, dicari dan disenangi, melalui penyempurnaan purnanya kesucian dan manunggalnya anugerah yang beruntun. Lalu mereka dikasihani dalam tempat aman bagi mereka, melalui penyaksian mereka kepada-Nya, yang ghaib dari diri mereka, dan mengambil apa yang diterima mereka, dan mencabut apa yang membuat mereka gembira dari anugerah dan rasa kasihan-Nya, dan mereka dihentikan oleh kehendak agar sampai kepada-Nya, dan pencarian kepada-Nya; berupa kontra-kontra kesaksian yang dahulu.Seandainya engkau melihat mereka dengan mata penyaksian-Nya pada mereka, dan melihat dengan kenyataan apa yang ditempatkan kepada mereka, tentu engkau akan melihat berbagai sandera yang terbelah-belah dan terlenyapkan, serta melihat penyiksaan arwah-arwah luluh lantah.
Mereka dihanyutkan melalui pelenyapan dalam Keperkasaan Malakut-Nya, dan mereka dilenyapkan dengan limpah-ruah cobaan Al-Haq dengan pemusnahan oleh-Nya, dengan sesuatu dimana mereka mendapatkan pertolongan dari-Nya, dan dengan itu Pula kepada-Nya, dalam tekanan-tekanan kegelisahan bencana yang membuat mereka mengaduh. Nafas-nafas mereka dikumpulkan dalam nafas-nafas mereka, dan ruh-ruh mereka ditahan dalam ruh-ruh mereka. Dan dengan begitu mereka ke sana-ke mari, dan dari-Nya, bersama-Nya, kepada-Nya mereka menunggalkan diri.Inilah, sebagian ilmu Tauhid dihamparkan oleh hamba-hamba Kinasih-kinasih-Nya. Selesailah (bab ini), dengan memuji kepada Allah dan dari Allah dan dari Allah pula. ‘Semoga Allah menganugerahkan rahmat-Nya kepada Muhammad dan seluruh keluarganya, dan memberikan keselamatan dengan keselamatan penuh.’

Adab Penempuh Jalan Ruhani

Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih Maha Pemurah.
Hazrat Maulana Syaikh Abul Oasim al-Junaid — Radhiyallahu anhu — ditanya tentang etika penempuh jalan Allah Azza wa jalla, maka al-Junaid menjawab, “Hendaknya engkau ridha terhadap Allah Azza wa Jalla dalam seluruh tingkah laku ruhani, dan hendaknya engkau tidak meminta kepada siapa pun kecuali kepada Allah Ta’ala.” Beliau juga ditanya tentang intuisi kebaikan, apakah intuisi itu hanya satu atau banyak? Al-Junaid menjawab, “Kadang-kadang bisikan (intuisi) yang mengajak pada kepatuhan itu terdiri dari tiga arah:
1. Bisikan yang dibangkitkan oleh intuisi syetan
2. Bisikan nafsu yang dibangkitkan intuisi syahwat dan peringanan beban; dan
3. Bisikan Rabbany yang dibangkitkan oleh intuisi taufik.
Ketiganya sulit dibedakan dalam hal ajakannya untuk patuh. Untuk membedakan harus didasari amaliah yang benar, sebagaimana sabda Rasulullah saw, “Barangsiapa dibukakan pintu kebaikan, maka cepatlah ia meraihnya.” Dan tentunya, kita harus menolak pintu terbuka di luar kebajikan. Sementara intusi syetan itu berdasar firman Allah swt.:”Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa bila mereka ditimpa was-was dari syetan, mereka ingat kepada Allah, maka ketika itu juga mereka melihat kesalahan-kesalahannya.” (O.s. Al-A’raaf: 201).
Sedangkan intuisi syahwat yang merupakan bisikan nafsu, berdasar sabda Rasuluilah saw, “Neraka itu dihiasi oleh kesenangan-kesenangan.” Masing-masing intuisi atau bisikan tersebut memiliki perbedaan spesifik yang bisa dibedakan oleh pihak yang mendapatkannya.
Bisikan nafsu yang dibangkitkan intuisi syahwat dan upaya pencarian keringanan beban dan kesenangan; maka dalam konteks ini, syahwat terbagi menjadi:
1. Syahwat Nafsaniyah, Seperti cinta kedudukan dan keluhuran, usaha membalas (dendam) ketika marah, dan merendahkan pihak yang kontra kepadanya, dan sebagainya; serta
2. Syahwat jasmaniyah, seperti makan, minum, kawin, berpakaian, bersih, dan sebagainya.
Bagi nafsu, ada upaya kebutuhan pada obyek-obyek kenikmatan ini menurut jangkauan masing-masing dan tekanannya yang kuat kepada masing-masing ragam dari nafsu tersebut.
Bagi orang yang mendapatkan bisikan nafsu ada dua tanda yang berdiri pada posisi seorang saksi yang adil dalam membedakan bisikan yang ditentukan:
Pertama, bisikan itu datang di saat ada kebutuhan mendesak pada unsur-unsur yang serupa tersebut, seperti munculnya keinginan kawin ketika hal-hal yang disenangi sangat mendesak, namun kebutuhan itu dijumbuhkan, bahwa tujuan kawin itu mengamalkan perintah Nabi saw, “Nikahlah kalian, agar kalian menurunkan keturunan. Sebab aku akan berlomba-lomba memperbanyak ummat lewat kalian di hari Kiamat.” Juga seakan-akan didasari oleh sabda Nabi saw, “Tak ada kependetaan di dalam Islam,” hal yang sama juga dalam soal makan di saat lapar. Lalu kadang-kadang dijumbuhkan dengan ajakan pada dirimu untuk meninggalkan puasa atau mendapatkan hal-hal yang menyenangkan, dengan alasan tersebut. Misalnya engkau mengatakan, bahwa puasa yang terus-menerus itu bisa melemahkan keinginan untuk taat; dan bahwa meninggalkan makanan yang enak ini, bisa melukai teman Muslim yang mengundangnya; atau bisa melukai perasaan keluarga manakala makanan itu memang sangat diminati oleh keluarganya.
Tetapi kadang-kadang ada godaan yang mengkhianatimu dengan warna lain, misalnya ada bisikan yang mengatakan kepadamu, “Jauhilah nafsu dengan meraih hal-hal yang tidak menyenangkan, agar bisikan nafsu itu tidak masuk kepadamu, yang bisa merusak ibadahmu,” dan sebagainya yang serupa. Semua ini merupakan godaan dan penyimpangan bisikan tersebut.
Semisal dengannya, ketika ada rasa berat dan enggan untuk beribadah, lalu bisikan itu datang dengan menggunakan alasan hadis bahwa Nabi saw. melarang “tidak nikah”, melarang pemaksaan diri, seperti sabdanya, “Lakukanlah amalmu semampumu,” dan sabdanya lagi, “Pohon yang ditumbuhkan, tidak pada bumi yang gersang, juga tidak pada tanah yang kasar.” Bahkan memperbanyak ibadah yang mendorong keletihanmu, syahwatnya mencegah untuk menjurus pada rusaknya ibadah atau mencegah untuk berpaling dari ibadah. Lantas membawamu pada bunuh diri atau penjara dan sepadannya, karena adanya khayalan atas dua kondisi tesebut, yang menjanjikan kesenangan dan hilangnya beban.
Salah satu dari dua bukti dari bab ini, diawali dengan kejenuhan dan kepayahan, ketika muncul keinginan untuk lepas beban, dan diawali dengan sesuatu yang menyenangkan yang dimunculkan oleh intuisi syahwat. Karena itu harus direnungkan perihal dua kondisi tersebut. Apabila telah didahului oleh dua motivasi tersebut, berarti itu bisikan nafsu. Kebutuhan nafsu adalah faktor yang mengajak dan menggerakkannya. Kesimpulannya bahwa bisikan tersebut bersifat syahwat atau keinginan pada hal yang menyenangkan. Maka pada galibnya bisikan seperti itu pasti dari nafsu. Sedangkan saksi kedua adalah desakan bisikan ini dan tidak adanya pemutusan terhadap bisikan tersebut, hingga datangnya semacam kemampuan sepanjang engkau menolak dan berjuang melawan nafsumu, yang mendesak dan mengeraskan kepalamu, lalu muncul desakan bahwa memohon perlindungan, rasa takut, waspada dan rasa suka itu tidak ada gunanya. Bahkan yang muncul adalah dorongan yang mendesak terus-menerus. Yang demikian ini merupakan bukti-bukti yang gamblang, bahwa desakan demikian dari nafsu. Sebab nafsu itu seperti anak-anak, ketika anak-anak di larang malah tampak keras kepalanya.Dua kondisi seperti itu merupakan bukti yang adil, manakala bertemu, tidak bisa diragukan sebagai bisikan nafsu. Terapinya untuk menanggulangi masalah ini adalah kontra secara radikal dan upaya yang penuh. Engkau harus mencegah keinginan bebas beban di saat muncul pembangkit bisikan kepayahan dan kelelahan ibadah, atau posisi yang memberatkan, agar bisa mencegah gerakan intuitif seperti itu. Apabila bisikan itu bersifat emosi syahwat, terapinya melalui tindak preventif terhadap faktor yang memburunya, atau engkau menolak dari kesenangan lain agar lebih kuat tindak pencegahannya.
Sedangkan intuisi syetan ditandai dengan dua hal pula:
Pertama, dengan munculnya sebagian apa yang dibutuhkan nafsu melalui ajakan syahwat atau ajakan bebas beban dalam waktu-waktu yang diinginkan sebagai tuntutan nafsu. Perbedaan antara intuisi syetan dan intuisi nafsu, bahwa intuisi syetan itu sangat mendesak. Kedua, intuisi syetan itu dimulai dan ditimpakan pada akalnya, sementara intuisi nafsu berkaitan dan menggerakkan wataknya seperti syahwat dan rasa senang. Oleh sebab itu was-was syetan berjalan menuruti alur pembicaraan manusia dengan dirinya. Hanya saja perbedaan di sana-sini tidak terlihat jelas.
Manusia menggerakkan hatimu dari arah indera pendengaran di saat berbicara; atau mendengar dan melihat ketika menunjukkan (mengisyaratkan); serta merasakan ketika meraba; sementara syetan mengganggu melalui was-was dan perabaan hati serta membisik dalam hati. Syetan tidak tahu yang ghaib, namun ia datang kepada nafsu dari sisi akhlak yang direkayasa untuk dilakukannya. Inilah perbedaan antara intuisi nafsu dengan intuisi syetan.
Adapun intuisi Rabbany, ditunjukkan melalui dua bukti.
Pertama, muncul berselaras dengan syariat bagi pelakunya, dan ada bukti-bukti kebenarannya. Kedua, tidak diawali hasrat nafsu ketika menerima intuisi tersebut, justru muncul ragam keleluasaan. Intuisi tersebut merobohkan nafsu, tanpa adanya permulaan seperti pada intuisi syetan. Hanya saja kecepatan nafsu berselaras dengan intuisi syetan, lebih banyak, lebih gamblang, dan lebih membuatnya malas. Karena syetan itu tiba dari sisi syahwat dan kesenangannya. Sedangkan intuisi Rabbany datang dari segi beban dan tugas. Nafsu menolak kedatangan tugas dari intuisi Rabbany. Inilah perbedaan antara intuisi Rabbany, intuisi nafsu dan intuisi syaithany. Apabila engkau kedatangan bisikan atau intuisi, maka timbanglah dengan tiga kriteria di atas, buktikan dengan bukti-bukti yang kami tunjukkan, sehingga engkau bisa membedakan berbagai intuisi.
Jadikanlah intuisi syetan dan nafsu — sebagaimana kami sebutkan untukmu — untuk ditolak, lalu bergegaslah dengan intuisi Rabbany. Jangan engkau abaikan intuisi Rabbany itu, sebab waktu itu sempit dan kondisi ruhani itu bisa berubah. Engkau harus waspada dengan buaian nafsu dan was-was syetan. Sebab pintu ini termasuk pintu kebajikan yang dibukakan untukmu, maka raihlah hingga engkau bisa memulai dari awalnya.
Misalnya, muncul bisikan kepada orang yang dianjurkan berpuasa pada sebagian bulan atau qiyamullail, lalu bisikan itu datang, “Sudahlah, nanti saja kalau malam sudah habis,” atau kata-kata, “Nanti saja kalau bulan akan habis,” padahal bisikan seperti itu adalah rekayasa bagi pemilik pintu taufik.
Bisikan-bisikan seperti itu tidak abadi, namun cepat berubah. Sedangkan bergegas untuk berpegang erat pada intuisi Rabbany, sangat dianjurkan syariat. Ada dua manfaat di dalamnya:
Pertama, bahwa waktu yang ada adalah waktu yang paling sempurna, seperti waktu-waktu dimana hadist-hadist menyebutkan turunnya anugerah Allah Azza wa Jalla, dan turunnya rahmat serta ampunan. Sementara pandangan-pandangan Allah swt. kepada makhluk-Nya tiada terbatas.
Kedua, semangat untuk menjalankan perintah-perintah dan taat ketika muncul berkah dibalik amal. Di sinilah rasa malas menjadi sirna, karena berhadapan dengan hembusan-hembusan Rahmat Allah Ta’ala. Demikian pula sekaligus menjadi manfaat olah jiwa (riyadhah nafsu) untuk segera melaksanakan perintah-perintah. Wallahu A’lam wa Ahkam.Demikian akhir dari ucapan Abul Qosim al-junaid — semoga Allah menyucikan ruhnya dan mencerahkan kuburnya. Dan segala puji hanya bagi Allah Tuhan sementa alam, serta shalawat dan salam semoga terlimpah pada junjungan kita Muhammad, beserta keluarga dan sahabatnya semuanya, dengan salam sejahtera yang melimpah ruah.
 
Alfatihah

Rabu, 15 Mei 2013

TERPUTUSNYA ANTARA ROH DAN JASAD

Assalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh

Terputusnya antara roh dan jasad atau kematian bukanlah kejadian biasa, tapi merupakan peristiwa besar yang menyakitkan dan juga merupakan perubahan situasi serta adanya peralihan dari suatu alam ke alam lain. Kejadian kematian itu beraneka ragam, yang secara umum terbagi menjadi dua, yaitu meninggal dalam keadaan husnul khatimah atau menunjukkan suatu gambaran bahwa nasib yang akan dialami oleh si mayat setelah kematiannya akan bahagia dan meninggal dalam keadaan suul khatimah atau keadaan yang menggambarkan keburukan yang bakal dialaminya.

Bagi orang yang meninggal dalam keadaan husnul khatimah tanda-tandanya, antara lain :

• Mengucapkan kalimat tauhid (syahadat). Rosulullah bersabda, “Barangsiapa yang di akhir hayatnya mengucapkan la ilaha illallah (tidak ada Tuhan yang berhak untu disembah kecuali Allah), maka ia masuk syurga” (HR Abu Dawud).

• Dahi atau keningnya berkeringat. Dari Buraidah bin Hashib waktu berada di Khurasan. Lalu, saudaranya kembali kepadanya dalam keadaan sakit sehingga ia sempat menyaksikan kematiannya. Saat saudaranya meninggal dunia, ia melihat keringat keluar dari dahinya, dan berkata, “Allahu Akbar”. Aku mendengar Rosulullah bersabda, “Meninggalnya seorang mukmin ditandai dengan keringat di dahinya” (HR Tirmizi, Nasa’i dan Ibnu Majah).

• Meninggal dunia pada malam Jum’at atau siang harinya. Diriwayatkan oleh Abdullah bin Umar, dia mendengar bahwa Rosulullah bersabda, “Tidaklah seorang muslim meninggal dunia pada hari Jum’at atau malamnya, melainkan Allah akan melindunginya dari fitnah siksa kubur” (HR Tirmizi).

• Mati syahid. Ada lima macam mati syahid yang disebutkan oleh Rosulullah yaitu disebabkan wabah (al-math’un), sakit perut (al-mabthun), karam atau tenggelam (al-ghariq), tertimpa tanah runtuh (shahibul hadm), dan syahid dalam perang di jalan Allah. (HR Bukhari dan Muslim).

Mudah-mudahan kelak kita termasuk ke dalam golongan orang-orang yang meninggal husnul khatimah. Wassalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh