Rabu, 15 Mei 2013

BAHASA PERBUATAN (KETELADANAN) DALAM MENJELASKAN AGAMA ISLAM

Assalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh

Pada saat ini, kita berkeinginan menjelaskan masalah agama (dakwah) yang lebih sejati atau persuasif dengan penjelasan yang menekankan pada keteladanan dan keluhuran budi pekerti (akhlak). Untuk itu, kita perlu belajar banyak kepada Rosulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam dan sahabat-sahabatnya karena bahasa perbuatan (keteladanan) itu jauh lebih efektif bila dibandingkan dengan bahasa verbal atau retorika (lisan al-hal afshah min lisan al-maqal).

Dikisahkan, seseorang telah memaki habis-habisan Abu Dzar al-Ghifari (sahabat Rosulullah). Lalu, kepada orang itu Abu Dzar al-Ghifari berkata, “Janganlah kamu memaki habis-habisan. Sisakan sedikit ruang untuk berdamai. Kami (kaum muslim) tidak akan pernah membalas keburukan orang lain dengan keburukan yang sama”. Mendengar perkataan Abu Dzar al-Ghifari, orang itu tertegun dan berhenti memakinya. Kenapa Abu Dzar al-Ghifari mengatakan demikian ? Karena Abu Dzar al-Ghifari sebagai salah seorang sahabat Rosulullah tentu banyak belajar dan menimba ilmu serta kearifan dari Rosulullah. Dan melalui kisah ini, Abu Dzar al-Ghifari mengajarkan kepada kita tentang bahasa perbuatan (keteladanan) itu jauh lebih efektif bila dibandingkan dengan bahasa verbal atau retorika (lisan al-hal afshah min lisan al-maqal) dengan penjelasan yang menekankan pada keteladanan dan keluhuran budi pekerti (akhlak) yaitu dakwah dengan menggunakan kekuatan moral dan akhlak karimah (bukan dengan pentungan atu kekerasan, apalagi teror). Dakwah seperti ini dapat difahami sebagai dakwah yang menekankan dan berbasis kepada kekuatan moral atau akhlak mulia. Rosulullah lah yang pertama melakukannya, begitu juga Khulafatur Rosyidin dan para sahabat lainnya secara umum. Mereka semua berdakwah dengan cara-cara yang terhormat dan dilandasi rasa cinta serta kasih sayang dan penuh kearifan.

Dakwah seperti di atas, sekurang-kurangnya memiliki empat kriteria, yaitu :

• Mengedepankan keteladanan dan contoh atau model yang baik (qudwah hasanah). Dalam hal ini seorang pendakwah sebagai penyeru ke jalan Allah, tidak mengajak manusia dengan kata-kata (mulut)nya, tetapi dengan keluhuran budi pekerti (akhlak)nya.

• Mengedepankan kebaikan (hasanah), bukan keburukan (sayyi’ah). Dalam hal ini seorang pendakwah seperti diperintahkan Al-Qur’an, tidak diperkenankan membalas keburukan dengan keburukan serupa. “Dan tidalah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah kejahatan itu dengan cara yang lebih baik” (Fushshilat ayat 34).

• Menjaga dan memelihara diri dari akhlak tercela. Dalam hal ini seorang pendakwah berusaha keras agar terhindar dari akhlak tercela. Rosulullah pernah bersabda, “Orang yang paling sempurna imannya adalah orang yang paling mulia akhlaknya”. Dalam suatu riwayat, dilaporkan kepada Rosulullah bahwa seorang wanita rajin dan tekun beribadah (puasa di siang hari dan bertahajjud di malam hari), tapi ia jahat kepada tetangganya. “Hiya fi al-nar” (ia di neraka)” tegas Rosulullah (HR Ibn Abi Syaibah). Dalam riwayat lain, Rosulullah menegaskan bahwa seorang muslim bukanlah orang yang gemar menghujat, mengutuk, melakukan keburukan, dan bermulut kasar. (HR Thabrani).

• Menimbulkan pengaruh yang baik. Bahwa pengaruh adalah perubahan sikap dan perilaku seperti yang dikehendaki Allah dan Rosul-Nya. Pengaruh adalah tujuan akhir yang ingin dicapai dari setiap proses dakwah, tanpa pengaruh maka aktivitas dakwah seperti raga tanpa nyawa.

Semoga bermanfaat, wassalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh

Tidak ada komentar:

Posting Komentar